PERANG SALIB (Bagian 2 habis)
Jatuhnya
beberapa wilayah kekuasaan Islam ke tangan kaum salib membangkitkan
Dibwah kepemimpinannya, ia meneruskan cita-cita ayahnya untuk
membebaskan negara-negara Islam di Timur dari cengkeraman kaum salib.
Termasuk kesadaran kaum Muslimin untuk menghimpun kekuatan guna
menghadapi mereka. Di bawah komando Imaduddin Zanki, penguasa Moshul
dan Irak, berhasil menaklukan kembali Aleppo, Haminah, dan Edessa pada
tahun 1144 M. Namun ia wafat tahun 1146 M, dan digantikan oleh putranya
Nuruddin Zanki. Nuruddin berhasil merebut kota Damaskus tahun 1147,
Antiochea pada tahun 1149 M, dan pada tahun 1151 M seluruh Edessa dapat
direbut kembali (Yatim, 2003:78). juga ia berhasil membebaskan Mesir
pada tahun 1169 M (Dewan Redaksi, 1997:242).
Keberhasilan
kaum muslimin meraih berbagai kemenangan menyebabkan orang-orang
Kristen mengobarkan Perang Salib kedua. Paus Eugenius III menyerukan
perang suci yang disambut positif oleh raja Perancis Louis VII dan raja
Jerman Condrad II. Keduanya memimpin pasukan salib untuk merebut
wilayah Kristen di Syria. Akan tetapi gerak maju mereka dihambat oleh
Nuruddin Zanki. Mereka tidak berhasil memasuki Damaskus, dan Louis VII
dan Condrad II sendiri melarikan diri pulang ke negerinya. Pada tahun 1
174 M Nuruddib wafat, dan pimpinan perang dipegang oleh Shalah al-Din
al-Ayyubiyah di Mesir pada tahun 1175 M. Akhirnya Shalah al-Din dapat
merebut kembali Yerusalem pada tahun 1187 M. Dengan demikian kerajaan
Latin di Yerusalem yang berlangsung selama 88 tahun
berakhir(Yatim,2003:78).
Jatuhnya
Yerusalem ke tangan kaum Muslimin sangat memukul perasaan tentara
salib. Mereka pun menyusun rencana balasan. Kali ini tentara salib
dipimpin oleh Frederick Barbarossa, raja Jerman, Richard the Lion Hart, raja Inggris, dan Philip Augustus, raja Perancis, yang bergerak pada tahun 1189 M.
Ekspedisi
militer salib kali ini dibagi dalam beberapa divisi. Sebagian menempuh
jalan darat dan yang lainnya menempuh jalur laut. Frederick yang
memimpin divisi darat tewas tenggelam dalam penyeberangannya di sungai
Armenia, dekat kota ar-Ruha'. Sebagian tentaranya kembali, kecuali
beberapa orang yang terus melanjutkan perjalannya di bawah pimpinan
putra Frederick. Adapun kedua divisi lainnya yang menempuh jalur laut
bertemu di Sicilia. Karena terjadi kesalahpahaman, akhirnya mereka
meninggalkan Sicilia secara terpisah, Richard menuju Cyprus dan
mendudukinya dan selanjutnya menuju Syam (Suriah). Adapun Philip
langsung menuju Acre (Akka) dan berhasil merebutnya yang kemudian
dijadikan ibu kota kerajaan Latin. Akan tetapi mereka tidak berhasil
memasuki Palestina.
Pada
tanggal 2 Nofember 1192 M, dibuat perjanjian damai atau gencatan
senjata antara tentara salib dengan Shalah al-Din yang disebut dengan
Shulh al-Ramlah (Yatim,2003:78). Inti perjanjian damai tersebut adalah
: daerah pedalaman akan menjadi milik umat Islam, dan umat Kristen yang
akan ziarah ke Baitul Maqdis akan terjamin keamanannya, sedangkan
daerah pesisir utara, Acre dan Jaffa berada di bawah kekuasaan tentara
salib (Dewan Redaksi,1997:242).
C. Periode Ketiga atau Periode Kehancuran Pasukan Salib (1193-1291 M)
Tentara
Salib pada periode ini dipimpin oleh raja Jerman, Frederick II. Kali
ini mereka berusaha merebut Mesir lebih dahulu sebelum Palestina,
dengan harapan dapat bantuan orang Kristen Qibthi. Pada tahun 1219 M
mereka berhasil menduduki Dimyat. Raja Mesir dari dinasti Ayyubiyah
waktu itu, al-Malik al-Kamil, membuat perjanjian dengan Frederick, yang
isinya antara lain Frederick bersedia melepaskan Dimyat, sementara
al-Malik al-Kamil melepaskan Palestina, dengan syarat Frederick menjamin keamanan kaum muslimin di sana, dan Frederick tidak mengirim bantuan kepada Kristen di Syria.
Dalam
perkembangan berikutnya, Palestina dapat direbut kembali oleh kaum
muslimin pada tahun1247 M, di masa pemerintahan al-Malik al-Shalih,
penguasa Mesir selanjutnya. Ketika Mesir dikuasai dinasti Mamalik -yang
menggantikan posisi dinasti Ayyubiyah- pimpinan perang dipegang oleh
Baybars dan Qolawun. Pada masa merekalah Akka dapat direbut kembali
oleh kaum muslimin pada tahun 1291 M(Yatim,2003:79).
Dalam
buku Ensiklopedi Islam dinyatakan bahwa Perang Salib ketiga ini dikenal
sebagai periode kehancuran pasukan Salib, hal ini disebabkan karena
periode ini lebih disemangati ambisi politik untuk memperoleh kekuasaan
dan material, bukan motivasi karena agama. Tujuan utama mereka untuk
membebaskan Baitul Maqdis mereka lupakan. Hal ini dapat dilihat katika
pasukan Salib yang semula dipersiapkan menyerang Mesir ternyata
membelokkan haluan menuju Konstantinopel. Kota ini dapat direbut dan
dikuasai dengan Baldwin sebagai rajanya. Dia adalah raja Roma-Latin
pertama yang berkuasa di Konstantinopel (Dewan Redaksi,1997:242).
IV. Dampak Perang Salib Terhadap Peradaban Islam
Akibat
adanya perang Salib ini, walaupun umat Islam berhasil mempertahankan
daerah-daerahnya dari tentara Salib, namun kerugian yang mereka derita
banyak sekali, karena peperangan ini terjadi di wilayah Islam. Di
antaranya adalah kekuatan politik umat Islam menjadi lemah. Dalam
kondisi demikian mereka bukan menjadi bersatu, tetapi malah terpecah
belah. Banyak dinasti kecil yang memerdekakan diri dari pemerintahan
pusat Abbasiyah di Baghdad (Yatim,2003:79).
Meskipun
pihak Kristen Eropa menderita kekalahan dalam Perang Salib, namun
mereka telah mendapatkan hikmah yang tidak ternilai harganya karena
mereka dapat berkenalan dengan kebudayaan dan peradaban Islam yang
sudah sedemikian majunya. Bahkan kebudayaan dan peradaban yang mereka
peroleh dari Timur-Islam menyebabkan lahirnya renaisans di Barat.
Kebudayaan yang mereka bawa ke Barat terutama dalam bidang militer,
seni, perindustian, perdagangan, pertanian, astronomi, kesehatan, dan
kepribadian.
Dalam
bidang militer, dunia Barat menemukan persenjataan dan teknik berperang
yang belum pernah mereka temui sebelumnya di negerinya, seperti
penggunaan bahan-bahan peledak untuk melontarkan peluru, pertarungan
senjata dengan menunggang kuda, teknik melatih burung merpati untuk
kepentingan informasi militer, dan penggunaan alat-alat rebana dan
gendang untuk memberi semangat kepada pasukan militer di medan perang.
Dalam
bidang perindustrian, mereka menemukan kain tenun dan peralatannya di
dunia Islam, kemudian mereka bawa ke negerinya, seperti kain muslin,
satin, dan damas. Mereka juga menemukan berbagai jenis parfum,
kemenyan, dan getah Arab yang dapat mengharumkan ruangan.
Sistem
pertanian yang sama sekali baru di dunia Barat mereka temukan di
Timur-Islam, seperti model irigasi yang praktis dan jenis
tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan yang beraneka macam, termasuk penemuan
gula.
Hubungan
perniagaan dengan Timur-Islam menyebabkan mereka menggunakan mata uang
sebagai alat tukar barang, yang sebelumnya mereka menggunakan sistem
barter. Ilmu astronomi berkembang pada abad ke-9 di dunia Islam telah
pula mempengaruhi lahirnya berbagai observatorium di dunia Barat.
Selain itu juga mereka meniru rumah sakit dan tempat pemandian. Yang
tidak kurang pentingnya adalah bahwa sikap dan kepribadian umat Islam
di Timur pada waktu itu telah memberikan pengaruh positif terhadap
nilai-nilai kemanusiaan di Eropa yang sebelumnya tidak mendapat
perhatian.
V. Pengaruh Perang Salib Terhadap Kekhilafahan Bani Abbasiyah
Perang
salib yang berlangsung selama tiga abad itu ternyata memberikan
pengaruh yang besar terhadap kekhilafahan Bani Abbasiyah. Di samping
faktor-faktor internal, Perang Salib menjadi faktor eksternal yang
menyebabkan khilafah Abbasiyah lemah dan akhirnya hancur. Kekuatan
politik umat Islam saat itu menjadi lemah, sehingga banyak dinasti
kecil yang memerdekakan diri dari pemerintahan pusat Abbasiyah di
Baghdad (Yatim,2003:79).
Sebagaimana
telah disebutkan, orang-orang Kristen Eropa terpanggil untuk ikut andil
berperang setelah Paus Urbanus II (1088-1099 M) mengeluarkan fatwanya.
Perang Salib ini juga membakar semangat perlawanan orang-orang Kristen
yang berada di wilayah kekuasaan Islam (Yatim,2003:85).
Pengaruh
Perang Salib juga terlihat dalam penyerangan tentara Mongol. Hulagu
Khan panglima tentara Mongol sangat membenci Islam karena dipengaruhi
oleh orang-orang Budha dan Kristen Nestorian. Tentara Mongol setelah
menghancurleburkan pusat-pusat Islam, mereka ikut memperbaiki Yerusalem
(Yatim,2003:85).
V. Kesimpulan
Dari berbagai uraian dan penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan, yaitu :
Perang
Salib adalah perang antara umat Islam dan umat Kristen dengan
disebabkan beberapa faktor seperti, faktor agama, politik dan sosial
ekonomi.
Perang
Salib berlangsung sejak tahun 1096 sampai tahun 1291 M dengan tiga
periode, periode pertama adalah periode penaklukan (1096-1144 M),
periode kedua adalah periode reaksi umat Islam (1144-1192 M), dan
periode ketiga adalah periode kehancuran pasukan Salib (1193-1291 M).
Perang
Salib ini berdampak negatif kepada peradaban Islam, dengan kata lain
menguntungkan pihak Kristen. Di antaranya, kekuatan politik umat Islam
menjadi lemah, sementara pihak Kristen dengan adanya Perang Salib itu
dapat berkenalan dengan kebudayaan dan peradaban Islam yang saat itu
sudah maju. Seperti, bidang militer, perindustrian, pertanian,
perdagangan atau perniagaan, dan termasuk juga dalam ilmu astronomi dan
kesehatan.
Perang
Salib termasuk faktor eksternal kelemahan dan kehancuran kekhilafahan
Bani Abbasiyah. Karena terjadinya Perang Salib yang berlangsung selama
tiga abad itu menyebabkan kekuatan politik umat Islam menjadi lemah.
VI. Daftar Pustaka
Al-Wakil,
Muhammad Sayyid (1998).Wajah Dunia Islam Dari Dinasti Bani Umayyah
Hingga Imperialisme Modern. Jakarta:Pustaka Al Kautsar.
Armstrong, Karen (2002). Islam Sejarah Singkat. Yogyakarta:Penerbit Jendela.
Lapidus, Ira.M.(1999).Sejarah Sosial Umat Islam.Jakarta:PT Raja Grafindo Persada.
Redaksi, Dewan (1997).Ensikplopedi Islam. Jakarta:PT Ichtiar Baru Van Hoeve.
Sodiqin, Ali dkk (2003).Sejarah Peradaban Islam.Yogyakarta: Fak. Adab IAIN Sunan Kalijaga.
Watt, W.Montgomery (1990).Kejayaan Islam Kajian Kritis Dari Tokoh Orientalis. Yogyakarta:PT Tiara Wacana.
Yatim, Badri (2003).Sejarah Peradaban Islam. Jakarta:PT Raja Grafindo Persada.



0 komentar:
Posting Komentar
Kumaha tah saur anjeun.....