Perang Salib (Bagian 1)
Oleh : Munir S.Ag
I. Pendahuluan
Perang
Salib adalah perang agama yang terjadi selama hampir tiga abad sebagai
reaksi umat Kristen di Eropa terhadap umat Islam di Asia yang dianggap
sebagai pihak penyerang. Perang ini terjadi karena sejak tahun 632
sampai meletusnya Perang Salib sejumlah kota-kota penting dan tempat
suci umat Kristen telah diduduki oleh umat Islam, seperti Suriah, Asia
Kecil, Spanyol, dan Sicilia. Disebut Perang Salib karena ekspedisi
militer Kristen mempergunakan salib sebagai simbol pemersatu untuk
menunjukkan bahwa peperangan yang mereka lakukan adalah perang suci dan
bertujuan untuk membebaskan kota suci Baitul Maqdis (Yerusalem) dari
tangan orang-orang Islam (Dewan Redaksi, 1997:240)
.
Untuk lebih terfokus dalam penyajian tema ini, maka penulis akan membahas pada pokok permasalahan dibawah ini, yaitu :
1. Faktor-faktor apa yang menyebabkan terjadinya Perang salib ? 2. Bagaimana Perang Salib dimulai ?
3. Bagaimana dampak Perang Salib terhadap peradaban Islam ?
4. Bagaimana pengaruh Perang Salib terhadap kekhilafahan Bani Abbasiyah ?
Untuk
membahas rumusan permasalahan tersebut, penulis mencoba menggunakan
metode historis analisis dengan bersumber dari berbagai literatur yang
berhubungan dengan permasalahan tersebut.
II. Faktor Penyebab Terjadinya Perang Salib
Adapun
yang menjadi faktor utama yang menyebabkan terjadinya Perang Salib
adalah faktor agama, politik, dan sosial ekonomi (Dewan Redaksi,
1997:240). Untuk mendapatkan pemahaman yang jelas dari faktor-faktor
tersebut, penulis berusaha menjelaskan satu persatu dari setiap faktor
itu.
1. Faktor Agama
Sejak
Dinasti Seljuk merebut Baitul Maqdis dari tangan Dinasti Fatimiyah pada
tahun 1070 M bertepatan pada tahun 471 H, pihak Kristen merasa tidak
bebas lagi memunaikan ibadah ke sana. Hal ini disebabkan karena para
penguasa Seljuk menetapkan sejumlah peraturan yang dianggap mempersulit
mereka yang hendak melaksanakan ibadah ke Baitul Maqdis. Bahkan mereka
yang pulang berziarah sering mengeluh karena mendapat perlakuan jelek
dari orang-orang Seljuk yang fanatik. Umat Kristen merasa perlakuan
para penguasa Dinasti Seljuk sangat berbeda dengan para penguasa Islam
lainnya yang pernah menguasai kawasan itu sebelumnya (Dewan Redaksi,
1997:240).
Perlu
diketahui, bahwa Dinasti Seljuk ialah dinasti yang pernah memerintah
Kekhilafahan Abbasiyah setelah Dinasti Buwaih pada tahun 1055 M-1194 M
(Yatim, 2003:50). Dinasti Seljuk berasal dari beberapa kabilah kecil
rumpun suku Ghuz di wilayah Turkistan. Pada abad kedua, ketiga, dan
keempat hijrah mereka pergi ke arah barat menuju Transoxiana dan
Khurasan. Ketika itu mereka belum bersatu, dan dipersatukan oleh Seljuk
ibn Tuqaq, karenanya mereka disebut orang-orang Seljuk (Yatim, 2003:73)
Termasuk
juga faktor agama yaitu, adanya perasaan keagamaan yang kuat dikalangan
umat Kristen. Mereka meyakini kekuatan gereja dan kemampuannya untuk
menghapus dosa walaupun dosa itu setinggi langit (Al-Wakil,1998:165.
2. Faktor Politik
Kekalahan
Bizantium -sejak 330 disebut Konstantinopel (Istambul)- di Manzikart
(Malazkird atau Malasyird, Armenia) pada tahun 1071 M dan jatuhnya Asia
Kecil ke bawah kekuasaan Seljuk, telah mendorong Kaisar Alexius I
Commenus (Kaisar Konstantinopel) untuk meminta bantuan kepada Paus
Urbanus II (1035-1099; menjadi Paus dari 1088 sampai 1099) dalam
usahanya untuk mengembalikan kekuasaannya di daerah-daerah pendudukan
Dinasti Seljuk. Paus Urbanus II bersedia membantu Bizantium karena
janji Kaisar Alexius untuk tunduk di bawah kekuasaan Paus di Roma dan
harapan untuk dapat mempersatukan gereja Yunani dan Roma (Dewan
Redaksi, 1997:240). Oleh karena itu Paus Urbanus II berpidato kepada
seluruh umat Kristen Eropa di Clermont pada tahun 1095 M untuk
melakukan perang suci. Dia juga mengetahui berbagai kesuksesan Kristen
di Spanyol, yang mencapai puncaknya dengan direbutnya Toledo, dan
penaklukan di Sisilia (Watt, 1990:255).
Di
lain pihak, kondisi kekuasaan Islam pada waktu itu sedang melemah,
sehingga orang-orang Kristen di Eropa berani untuk ikut mengambil
bagian dalam Perang Salib. Ketika itu Dinasti Seljuk di Asia Kecil sedang
mengalami perpecahan, Dinasti Fatimiyah di Mesir dalam keadaan lumpuh,
sementara kekuasaan Islam di Spanyol semakin goyah. Situasi semakin
bertambah parah karena adanya pertentangan segitiga antara Khalifah
Fatimiyah di Mesir, Khalifah Abbasiyah di Baghdad, dan
Amir Umayyah di Cordoba yang memproklamasikan dirinya sebagai Khalifah.
Situasi yang demikian mendorong penguasa-penguasa Kristen di Eropa
untuk merebut satu-persatu daerah-daerah kekuasaan Islam, seperti
dinasti-dinasti kecil di Edessa (ar-Ruha') dan Baitul Maqdis (Dewan
Redaksi, 1997:240).
3. Faktor Sosial Ekonomi
Pedagang-pedagang
besar yang berada di pantai timur Laut Tengah, terutama yang berada
dikota Venezia, Genoa, dan Pisa, berambisi untuk menguasai sejumlah
kota-kota dagang di sepanjang pantai timur dan selatan Laut Tengah
untuk memperluas jaringan dagang mereka. Untuk itu mereka rela
menanggung sebagian dana Perang Salib dengan maksud menjadikan kawasan
itu sebagai pusat perdagangan mereka apabila pihak Kristen Eropa
memperoleh kemenangan. Hal itu dimungkinkan karena jalur Eropa akan
bersambungt dengan rute-rute perdagangan di Timur melalui jalur
strategis tersebut
Di
samping itu, stratifikasi sosial masyarakat Eropa itu terdiri dari tiga
kelompok, yaitu kaum gereja, kaum bangsawan serat kesatria, dan rakyat
jelata. Meskipun kelompok yang terakhir ini merupakan mayoritas di
dalam masyarakat, tetapi mereka menempati kelas yang paling rendah.
Kehidupan mereka sangat tertindas dan terhina, mereka harus tunduk
kepada para tuan tanah yang sering bertindak semena-semena dan mereka
dibebani berbagai pajak serta sejumlah kewajiban lainnya. Oleh karena
itu, ketika mareka dimobilisasi oleh pihak gereja untuk turut mengambil
bagian dalam Perang Salib dengan janji akan diberikan kebebasan dan
kesejahteraan yang lebih baik bila perang dapat dimenangkan, mereka
menyambut seruan itu secara spontan dengan berduyun-duyun melibatkan
diri dalam perang tersebut.
III. Bagaimana Perang Salib Dimulai ?
Paus
Urbanus II bersemangat terhadap gagasan memerangi kaum Muslimin,
apalagi kondisinya katika itu sangat tepat bagi Sri Paus untuk memompa
semangat dan menuruti bisikan hatinya yang penuh dengan kedengkian dan
kebencian itu. Kondisi ketika itu teringkas dalam poin-poin berikut:
1. Kelemahan Dinasti Seljuk pasca wafatnya Malik Syah, akibatnya negara Seljuk terpecah-pecah.
2.
Tidak adanya pemimpin yang kuat yang menyatukan perpecahan umat Islam
dan membentuk pasukan yang tangguh guna mengusir setiap lawan yang
bermaksud jahat kepadanya.
3. Beberapa kabilah pesisir telah masuk agama Kristen, ini berarti membuka jalan antara Eropa dan negara-negara Timur
4.
Penaklukan Qarsinah di laut tengah dan berdirinya republik-republik
kuat dan kaya raya di Italia seperti Januh dan Bunduqiyah.
Republik-republik tersebut memiliki angkatan laut yang kuat untuk
melindungi keselamatan bisnisnya.
5. Kemenangan Sri Paus dalam mengendalikan para raja dan para gubernur di Eropa.
Karena
kondisi-kondisi di atas, Sri Paus berani mengumumkan terang-terangan
permusuhannya dan kebenciannya kepada kaum Muslimin. Ia menyerukan
diselenggarakannya kongres tahunan yang dihadiri oleh seluruh sekte
agama Kristen di Eropa Barat. Seruan Sri Paus disambut sebagian besar
umat Kristiani yang dihadiri 225 uskup gereja-gereja Eropa. Sri Paus
berpidato di hadapan mereka dan membakar sentimentil para hadirin. Ia
jelaskan kondisi terakhir Baitul Maqdis dan mengusulkan pembebasannya
dari tangan kaum Muslimin. Para peserta kongres menjawab dengan
bodohnya: "Itulah sebenarnya yang dikehendaki Allah!". Sri Paus puas
dengan jawaban para peserta kongres kemudian ia pasang salib di atas
lengan para sukarelawan sebagai tanda bahwa perang ini adalah suci
(Al-Wakil, 1998:171).
Maka mulai saat itulah genderang perang ditabuh, dan perjalanan perang ini memakan waktu yang cukup lama dengan tiga periodesasi.
A. Periode Pertama atau Periode penaklukan (1096-1144)
Jalinan
kerja sama antara Kaisar Alexius I dan Paus Urbanus II berhasil
membangkitkan semangat umat Kristen, terutama akibat pidato Paus
Urbanus II pada Konsili Clermont pada tanggal 26 November 1095 M. Pidatonya
ini bergema ke seluruh penjuru Eropa yang mengakibatkan seluruh negara
Kristen mempersiapkan berbagai bantuan untuk mengadakan penyerbuan.
Gerakan ini merupakan gerakan spontanitas yang diikuti oleh berbagai
kalangan masyarakat. Gerakan ini dipimpin oleh Pierre I'Ermite,
Sepanjang jalan menuju Kontanstantinopel, mereka membuat keonaran,
melakukan perampokan, dan bahkan terjadi bentrokan dengan penduduk
Hongaria dan Bizantium, akhirnya dengan mudah pasukan Salib dapat
dikalahkan oleh pasukan Dinasti Seljuk (Dewan Redaksi, 1997:241)
Pasukan
Salib angkatan berikutnya dipimpin oleh Godfrey, Bohemond, dan Raymond.
Gerakan kali ini merupakan ekspedisi militer yang terorganisasi dan
rapi, dan mereka memperoleh kemenangan yang besar dengan menaklukan
Nicea pada tanggal 18 Juni 1097 M, dan tahun 1098 M menguasai Raha
(Edessa). Di sini mereka mendirikan kerajaan Latin I dengan Baldawin
sebagai raja. Pada tahun yang sama mereka dapat menguasai Antiochea dan
mendirikan kerajaan Latin II di Timur dengan Bohemond sebagai raja.
Mereka juga berhasil menduduki Baitul Maqdis pada tanggal 15 Juli 1099
M dan mendirikan kerajaan latin III dengan rajanya, Godfrey.
Selanjutnya mereka berturut-turut menguasai kota Akka pada tahun 1104
M, Tripoli tahun 1109 M dengan mendirikan kerajaan Latin IV dan rajanya
Raymond, kemudian kota Tyre pada tahun 1124 M(Yatim, 2003:77) .



0 komentar:
Posting Komentar
Kumaha tah saur anjeun.....