BARNER BLOGGER

Blog Sejarah Seni dan Budaya

KIRIM CERITA ANDA KE EMAIL KAMI

RENUNGAN JIWA ENCUM NURHIDAYAT

Lencana Facebook

Entri Populer

IKLAN BLOG

PENGUNJUNG/ PEMBACA

Benarkah raja Sanjaya dari Mataram keturunan dari Kerajaan Sunda?



Ratu Sanjaya (Prabu Harisdarma)


Ratu Sanjaya adalah raja pertama Kerajaan Medang Kamulyaan periode Jawa Tengah (atau lazim disebut Kerajaan Mataram Kuno), yang memerintah dari tahun 732 – 760 Masehi. Namanya dikenal melalui Prasasti Canggal (732 M) dan Prasasti Mantyasih (907 M), serta Naskah Carita Parahyangan (1580 M) Dalam prasasti Mantyasih yang dikeluarkan Maharaja Dyah Balitung tahun 907 M, nama Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya tertulis pada urutan pertama dari para raja yang pernah memerintah Kerajaan Medang.

Sanjaya sendiri mengeluarkan prasasti Canggal tanggal 6 Oktober 732 masehi atau 654 saka yang berisi tentang pendirian sebuah lingga serta bangunan candi untuk memuja Siwa di atas sebuah bukit.

Isi prasasti Canggal sebagai berikut:

“Bait 1: Pembangunan lingga oleh Raja Sanjaya di atas gunung.

Bait 2-6: Pujaan terhadap Dewa Siwa, Dewa Brahma, dan Dewa Wisnu.

Bait 7: Pulau Jawa yang sangat makmur, kaya akan tambang emas dan banyak menghasilkan padi. Di pulau itu didirikan candi Siwa demi kebahagiaan penduduk dengan bantuan dari penduduk Kunjarakunjadesa.

Bait 8-9: Pulau Jawa yang dahulu diperintah oleh raja Sanna, yang sangat bijaksana, adil dalam tindakannya, perwira dalam peperangan, bermurah hati kepada rakyatnya. Ketika wafat negara berkabung, sedih kehilangan pelindung.

Bait 10-11: Pengganti raja Sanna yaitu putranya bernama Sanjaya yang diibaratkan dengan matahari. Namun kekuasaan tidak langsung diserahkan kepadanya oleh raja Sanna tetapi melalui kakak perempuannya (Sannaha).

Bait 12: Kesejahteraan, keamanan, dan ketentraman negara. Rakyat dapat tidur di tengah jalan, tidak usah takut akan pencuri dan penyamun atau akan terjadinya kejahatan lainnya. Rakyat hidup serba senang.”

Dalam Prasasti Canggal dengan sangat jelas tergambarkan bahwa Sanjaya adalah pemuja Siwa, Brahma, Wisnu (Tri Murti). Pemilihan Siwa sebagai agamanya dibuktikan dengan pendirian Lingga (Menhir) dan bangunan Candi Canggal sebagai tempat pemujaan terhadap Siwa.

Sanna dikatakan dalam prasasti tersebut sebagai ayah dari Sanjaya itu sendiri. Sedangkan pelimpahan kekuasaan dari Sanna kepada Sanjaya tidak dilakukan secara langsung, melainkan melalui Sannaha yang dikatakan sebagai kakak perempuan dari Sanna, ayahnya.

Dalam naskah Carita Parahyangan yang dibuat pada akhir abad ke-16 (1580 Masehi) tidak disebutkan siapa ibunya. Demikian pula di dalam Prasasti Canggal yang berangka tahun 654 saka (732 Masehi).

Sedangkan di naskah wangsakerta dikatakan bahwa Sanjaya (disebut juga Haris Darma) adalah putra pasangan Sena yang disebut juga Bratasenawa dan Sannaha. Sena dikatakannya adalah putra dari Jalantara atau Prabu Suragana atau Rahyang Mandiminyak dan Dewi Wulansari (Carita Parahyangan Rahyang Mandiminyak dan Pwah Rababu). Sementara Sanaha adalah putri dari Jalantara atau Prabu Suragana atau Rahyang Mandiminyak dan Dewi Parwati. Jika Mandiminyak merupakan raja Kerajaan Galuh, maka Parwati adalah putri Ratu Sima yang berkuasa di sebagian wilayah Kerajaan Kalingga.

Di kisahkan pula bahwa Raja Sanjaya menggantikan raja Sena yang berkuasa di Kerajaan Galuh. Kekuasaan raja Sena kemudian direbut oleh Rahyang Purbasora, Saudara seibu raja Sena. Sena sendiri menyingkir ke gunung Merapi bersama keluarganya. Setelah dewasa, Sanjaya berkuasa di Jawa Tengah. Ia berhasil merebut kembali kerajaan Galuh dari tangan Purbasora. Kerajaan kemudian berganti nama menjadi kerajaan Sunda.

Naskah Wangsakerta adalah sekumpulan naskah yang disusun oleh sebuah panitia yang dipimpin oleh Pangeran Wangsakerta yang bergelar Abdulkamil Muhammad Nasarudin dari Kesultanan Cirebon. Naskah ini disusun sejak akhir abad ke-17 atau pada tahun 1677 - 1698, menurut keterangan yang tertulis di dalamnya. Setidaknya perpustakaan Kesultanan Cirebon mengoleksi 1703 judul naskah, yang 1213 di antaranya berupa karya Pangeran Wangsakerta beserta timnya.

Naskah-naskah yang dihasilkan oleh panitia Wangsakerta dibagi menjadi beberapa naskah, yang masing-masing berjudul:

• Pustaka Nagarakretabhumi, berbahasa jawa kuno

• Pustaka Dwipantaraparwa, berbahasa jawa kuno

• Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa, berbahasa jawa kuno

• Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara, berbahasa jawa pertengahan

• Carita Parahyangan (1580 masehi) berbahasa sunda kuno

Naskah kontroversial ini tersimpan di Museum Sri Baduga di Bandung.

Carita Parahiyangan adalah naskah yang berisi sejarah yang dibuat oleh Pangeran Wangsakerta pada akhir abad ke-16. Dalam sebagian buku disebutkan Carita Parahiyangan merupakan nama suatu naskah Sunda kuno yang dibuat pada akhir abad ke-17, yang menceritakan sejarah Tanah Sunda, utamanya mengenai kekuasaan di dua ibukota Kerajaan Sunda yaitu Keraton Galuh dan keraton Pakuan.

Naskah Carita Parahyangan juga menyebut nama tempat yang termasuk dalam kekuasaan Kerajaan Sunda dan tempat-tempat lain di pulau Jawa dan pulau Sumatra. Sebagian dari nama-nama tempat tersebut masih ada sampai sekarang.

Nama-nama tempat tersebut di antaranya:

Ancol: Ancol (Jakarta Utara)
Arile (Kuningan)
Balamoha
Balaraja
Balitar
Barus
Batur
Berawan
Cilotiran
Cimara-upatah
Cina
Ciranjang
Cirebon
Datar
Demak
Demba (nusa)
Denuh (wewengkon pakidulan)
Galuh (Kerajaan Galuh/ salah satu pusat pemerintahan Kerajaan Sunda)
Galunggung
Gegelang
Gegeromas
Gunung Banjar
Gunungbatu
Gunung Merapi
Hanum
Hujung Cariang
Huluwesi
Sanghiyang
Jampang
Jawa (wilayah orang Jawa)
Jawakapala
Jayagiri
Kahuripan
Kajaron
Kalapa (pelabuhan utama Sunda, disebut juga Sunda Kalapa)
Keling
Kemir
Kendan (kerajaan yang berada di sekitar gunung Kendan di wilayah Nagreg)
Kiding
Kikis
Kreta
Kuningan ( pusat kabupaten Kuningan)
Lembuhuyu
Majapahit
Majaya
Malayu ( kerajaan Malayu di Sumatra)
Mananggul
Mandiri
Medang
Medangjati
Medang Kahiangan
Menir
Muntur
Nusalarang
Padang
Padarén
Pagajahan
Pagerwesi
Pagoakan
Pajajaran (Pakuan Pajajaran pusat pemerintahan Kerajaan Sunda, yang berlokasi di kota Bogor)
Pakuan Pajajaran
Pangpelengan
Paraga
Parahiyangan
Patégé
Puntang
Rajagaluh (Rajagaluh, Majalengka)
Rancamaya
Sanghiyang (wilayah sebelah barat Ciawi, Bogor, sekarang dijadikan permahan mewah)
Rumbut
Salajo
Saung Agung
Saunggalah
Simpang
Sumedeng
Sunda ( kerajaan Sunda yang pusatnya di Pakuan Pajajaran, Bogor, dan pernah juga berpusat di Galuh, Ciamis)
Taman
Tanjung
Tarum: Citarum
Tasik
Tiga gunung
Wahanten-girang ( Banten Girang)
Wanakusuma
gunung
Winduraja
Wiru.

Setelah berkuasa selama 9 tahun, Sanjaya menyerahkan kekuasaannya di Sunda (Galuh) kepada Rakean Tamperan atau Rakean Panaraban, puteranya. Sanjaya yang menikahi Sudiwara ( Putri Dewasingha, Raja Kalingga Utara) lebih memilih berkuasa di Mataram, dengan Sudiwara memiliki putra bernama Rakai Panangkaran.

Menurut Slamet Muljana, Rakai Panangkaran bukan putra Sanjaya, melainkan proses Wangsa Sailendra yang sukses merebut takhta Kerajaan Medang dan mengalahkan Wangsa Sanjaya. Teori ini didasarkan pada daftar para raja dalam prasasti Mantyasih di mana hanya Sanjaya yang bergelar Sang Ratu, sedangkan para penggantinya tiba-tiba begelar Maharaja. Selain itu, Rakai Panangkaran tidak mungkin berstatus sebagai raja bawahan, karena dia dipuji sebagai Sailendrawangsatilaka (permata Wangsa Sailendra) dalam prasasti Kalasan. Gagasan lainnya ialah, dalam prasasti Mantyasih Rakai Panangkaran bergelar maharaja, sehingga tidak mungkin sekiranya dia hanya seorang bawahan.

Biar jelas urutannya seperti ini:

Berdasarkan Naskah Carita Parahyangan yang berasal dari akhir abad ke-16

Putri Ratu Shima, bernama Parwati, menikah dengan putra mahkota Kerajaan Galuh yang bernama mandiminyak, yang kemudian menjadi raja kedua dari Kerajaan Galuh.

Ratu Shima memiliki cucu bernama sannaha yang menikah dengan raja Galuh ketiga yang bernama Sana atau Sena atau Bratasenawa. Sannaha dan Sana memiliki putra bernama Sanjaya yang kelak menjadi raja kerajaan Sunda dan kerjaan Galuh.

Setelah Ratu Shima meninggal pada 732, Sanjaya mewarisi tahta di Kalingga Selatan yang kemudian disebut Bumi Mataram.

Kekuasaan di Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh diserahkan kepada Tamperan Barmawijaya alias Rakai Panaraban, putranya.

Nama Sanjaya juga dapat kita jumpai pula dalam Prasasti Pupus yang ditemukan di daerah Semarang yang berangka 822M. Dalam Prasasti Pupus ini disebutkan bahwa Sanjaya telah meninggal atau Rahyangta.

Kesimpulan:

  1. Naskah Wangsakerta menyebutkan Sannaha ibu dari Sanjaya, sedangkan di prasasti Canggal yang di buat oleh Sanjaya, Sannaha adalah kakak perempuan dari Sana, Ayah Sanjaya. Dari sini sudah bisa di lihat perbedaan asal usul Sannaha.
  2. Historiografi dari Carita Parahyangan ini menurut hemat saya sangat dipertanyakan kebenarannya, karena naskah ini dibuat pada akhir abad ke-16 (1580 M), ratusan tahun setelah Sanjaya meninggal (822 M)

Bahkan dalam cerita itu, terlalu berlebihan dalam memuji kekuatan Sanjaya yang katanya selalu menang dalam setiap pertempuran, seperti saat melawan pemberontakan di kerajaan Sunda dan kerajaan Galuh. Selain itu dikisahkan pula kalau Sanjaya berhasil menaklukkan Melayu, Kamboja, dan Cina. Padahal menurut berbagai catatan sejarah penaklukkan atas Kamboja dan Sumatra saja baru terjadi pada masa pemerintahan Dharanindra, raja ketiga kerajaan Medang.



Di rangkum dari berbagai sumber.

0 komentar:

Posting Komentar

Kumaha tah saur anjeun.....

adsense

MUTIARA HATIKU