BARNER BLOGGER

Blog Sejarah Seni dan Budaya

KIRIM CERITA ANDA KE EMAIL KAMI

RENUNGAN JIWA ENCUM NURHIDAYAT

Lencana Facebook

Entri Populer

IKLAN BLOG

PENGUNJUNG/ PEMBACA

MENYUSURI KOTA YANG HILANG

Nun jauh disana terlihat bentangan kaki gunung memanjang membatasi kota Karawang, Purwakarta dan Bekasi, perbukitan yang menyimpan misteri yang belum terpecahkan dari generasi ke generasi, seakan enggan menampakan jati_dirinya yang terus tersembunyi dibalik rimbunnya belukar, cerita dari kakek ke cucu dari cucu ke cicit terus menggema seakan tak pernah habis-habisnya, yang menambah penasaan bagi seseorang yang menyenangi makna akan sejarah nenek moyangnya.


Nama Kutatandingan mungin sudah tidak asing ditelinga orang karawang, legenda_kah, atau hanya mitos belaka..? Almarhum kakek sering bercerita pendahulu kerawang mengenai perbukitan serta hutan legenda itu.
Konon katanya Kota Karawang mulai terbentuk di tempat itu, sayang kejelasan sejarah serta sumber referensi-nya belum ditemukan, sehingga cerita itu terkesan hanya mitos belaka.

Selama semuanya tidak dibarengi dengan data yang valid tetap aku menganggapnya hanya dongeng sebelum tidur, konon di tempat itu cerita kakek, Senopati KERTABUMI III (ayahanda Prabu singaperbangsa) mendirikan Kadipaten Karawang pertama, tepatnya di daerah udug-udug yang sekarang berganti nama menjadi Desa Mulyasejati.

Atas kesepakatan dengan kawan satu profesi ekspedisi ini dimulai, berbekal seadanya kami bertiga meyusuri hutan belukar. Hutan yang menyimpan misteri ini sekarang sudah di huni penduduk dari berbagai daerah, seperti Karawang Purwakarta dan Cianjur, terutama mereka yang tergabung pada Ormas Partisan Siliwangi (PS). Organisasi yang di dirikan oleh R. Ama Puradireja tokoh karawang,Subang dan Purwakarta yang sangat berpengaruh serta banyak jasanya bagi terlahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia serta beliau juga salah seorang sahabat terdekatnya Bung Karno (Presiden RI pertama).

Daerah perbukitan Kutatandingan sekarang kepengurusannya di tangani Perhutani sekarang menjadi ladang andalan penduduk sekitarnya, hasil hutan dan perkebunan serta palawija hasilnya mereka jual, cukup untuk menghidupi keseharian penduduk dusun cisoga dan Kutajati,

Rute yang kami tempuh di mulai dari Desa mulyasejati Kecamatan Ciampel, terus menyusuri jalan setapak motor, kami terhenti tepat di dusun Cisoga, setelah menitipkan motor kami meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki, menyusuri jalan setapak yang cukup licin serta mendaki, dan Alhamdulillah perjalanan kami disambut dengan guyuran hujan yang sangat deras pada waktu itu, perjalanan yang sangat melelahkan tapi cukup membuat kami terkesan. Ironis memang….. kami seakan tidak percaya ko masih ada daerah di Karawang yang tertinggal seperti ini daerah yang mempunyai PAD cukup tinggi di daerah Jawa-Barat sungguh menyayat hati.

Sesekali kami berpapasan dengan petani yang membawa hasil kebun dari atas bukit, ada yang membawa padi huma, Pisang, ketela pohon dan hasil kayu yang mereka dapatkan dari atas bukit, kutatap wajah mereka sungguh menggambarkan keprihatinan, seakan tergambar jelas keriput yang menghias di wajahnya. Ya Allah ternyata masih banyak Rakyat Karawang yang hidup seperti ini….(jeritku dalam hati).
Perjalan ditempuh hampir 2 jam, baru kutemukan jalan berbatu yang tertata rapi, batu-batu yang sangat unik mungkin disusun ratusan tahu  yang lalu… mulailah aura magic aku rasakan sepanjang jalan itu (Jalan Purwa.Red) yang dikanan-kirinya berjejer pohon pinus serta mahoni membawa suasana seakan kembali kejaman dulu.

Tak lama setelah kami menyusuri Jalan purwa, tak sampai 1 Km kami menemukan jalan yang menanjak orang disana bilang Tanjakan sambernyawa, jalan terbuat dari batu seperti ditatah atau di ratakan cukup merepotkan apalagi hujan terus mengiringi perjalanan kami. Tanjakan yang mempunyai kecuraman hamper 80 derajat sempat merepotkan perjalanan kam.

Setelah kami lalui tanjakan sambernyawa antara dua ratus meter tibalah di Kutajati, sebuah dusun/patilasan yang cukup mengesankan hati, karena di tempat ini aku bertemu dengan kerumunan anak kecil yang sedang belajar di pondokan sederhana, dengan bertelanjang dada mereka membawa buku yang sudah kumal serta pensil pendek. Mereka menatap kami seperti ketakutan, kami mendekati mereka tapi mereka malah lari tunggang langgang, ada yang menangis ada pula yang menatap tanpa bergeming memandangi kami. Hingga kawan kami mempunyai ide memberikan uang sepuluh ribuan supaya mereka sekedar berpose untuk di poto. Benar saja strategi kawan kami jitu…. Mereka mau untuk di poto dan bercengkrama…(heheheeh dasar).


1 komentar:

HIDAYAT SHOP mengatakan...

Ini postingan tahun 2010

27 Februari 2019 pukul 11.17

Posting Komentar

Kumaha tah saur anjeun.....

adsense

MUTIARA HATIKU