MENYUSURI KOTA YANG HILANG
Konon katanya Kota Karawang mulai terbentuk di tempat itu,
sayang kejelasan sejarah serta sumber referensi-nya belum ditemukan, sehingga cerita itu
terkesan hanya mitos belaka.
Selama semuanya tidak dibarengi dengan data yang valid tetap aku menganggapnya hanya dongeng sebelum tidur, konon di tempat itu cerita kakek, Senopati KERTABUMI III (ayahanda Prabu singaperbangsa) mendirikan Kadipaten Karawang pertama, tepatnya di daerah udug-udug yang sekarang berganti nama menjadi Desa Mulyasejati.
Selama semuanya tidak dibarengi dengan data yang valid tetap aku menganggapnya hanya dongeng sebelum tidur, konon di tempat itu cerita kakek, Senopati KERTABUMI III (ayahanda Prabu singaperbangsa) mendirikan Kadipaten Karawang pertama, tepatnya di daerah udug-udug yang sekarang berganti nama menjadi Desa Mulyasejati.
Atas kesepakatan dengan kawan satu profesi ekspedisi ini
dimulai, berbekal seadanya kami bertiga meyusuri hutan belukar. Hutan yang
menyimpan misteri ini sekarang sudah di huni penduduk dari berbagai daerah, seperti
Karawang Purwakarta dan Cianjur, terutama mereka yang tergabung pada Ormas Partisan Siliwangi (PS). Organisasi yang di dirikan oleh R. Ama Puradireja tokoh karawang,Subang
dan Purwakarta yang sangat berpengaruh serta banyak jasanya bagi terlahirnya
Negara Kesatuan Republik Indonesia serta beliau juga salah seorang sahabat terdekatnya
Bung Karno (Presiden RI pertama).
Daerah perbukitan Kutatandingan sekarang kepengurusannya di
tangani Perhutani sekarang menjadi ladang andalan penduduk sekitarnya, hasil hutan
dan perkebunan serta palawija hasilnya mereka jual, cukup untuk menghidupi
keseharian penduduk dusun cisoga dan Kutajati,
Rute yang kami tempuh di mulai dari Desa mulyasejati
Kecamatan Ciampel, terus menyusuri jalan setapak motor, kami terhenti tepat di dusun Cisoga, setelah
menitipkan motor kami meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki, menyusuri
jalan setapak yang cukup licin serta mendaki, dan Alhamdulillah perjalanan kami
disambut dengan guyuran hujan yang sangat deras pada waktu itu, perjalanan yang
sangat melelahkan tapi cukup membuat kami terkesan. Ironis memang….. kami seakan tidak percaya ko masih ada
daerah di Karawang yang tertinggal seperti ini daerah yang mempunyai PAD cukup
tinggi di daerah Jawa-Barat sungguh menyayat hati.
Sesekali kami berpapasan dengan petani yang membawa hasil
kebun dari atas bukit, ada yang membawa padi huma, Pisang, ketela pohon dan
hasil kayu yang mereka dapatkan dari atas bukit, kutatap wajah mereka sungguh
menggambarkan keprihatinan, seakan tergambar jelas keriput yang menghias di
wajahnya. Ya Allah ternyata masih banyak Rakyat Karawang yang hidup seperti
ini….(jeritku dalam hati).
Perjalan ditempuh hampir 2 jam, baru kutemukan jalan berbatu
yang tertata rapi, batu-batu yang sangat unik mungkin disusun ratusan tahu yang lalu… mulailah aura magic aku rasakan
sepanjang jalan itu (Jalan Purwa.Red) yang dikanan-kirinya berjejer pohon pinus
serta mahoni membawa suasana seakan kembali kejaman dulu.
Tak lama setelah kami menyusuri Jalan purwa, tak sampai 1 Km
kami menemukan jalan yang menanjak orang disana bilang Tanjakan sambernyawa,
jalan terbuat dari batu seperti ditatah atau di ratakan cukup merepotkan
apalagi hujan terus mengiringi perjalanan kami. Tanjakan yang mempunyai
kecuraman hamper 80 derajat sempat merepotkan perjalanan kam.
Setelah kami lalui tanjakan sambernyawa antara dua ratus
meter tibalah di Kutajati, sebuah dusun/patilasan yang cukup mengesankan hati,
karena di tempat ini aku bertemu dengan kerumunan anak kecil yang sedang
belajar di pondokan sederhana, dengan bertelanjang dada mereka membawa buku
yang sudah kumal serta pensil pendek. Mereka menatap kami seperti ketakutan,
kami mendekati mereka tapi mereka malah lari tunggang langgang, ada yang
menangis ada pula yang menatap tanpa bergeming memandangi kami. Hingga kawan
kami mempunyai ide memberikan uang sepuluh ribuan supaya mereka sekedar berpose
untuk di poto. Benar saja strategi kawan kami jitu…. Mereka mau untuk di poto
dan bercengkrama…(heheheeh dasar).



.jpg)



1 komentar:
Ini postingan tahun 2010
27 Februari 2019 pukul 11.17Posting Komentar
Kumaha tah saur anjeun.....