Dogma Cinta yang Berevolusi
Berbicara mengenai cinta memang tidak ada habisnya, karena sesungguhnya cinta
sangat penting dalam kehidupan manusia yang mampu memberi banyak warna
dalam dunia ini. Berawal dari cintalah maka terlahir suatu karya –
karya yang inspiratif, inovatif, imajenatif dan kreatif dengan sentuhan
seni tingkat tinggi dengan berbagai bentuk. Cinta pada
dasarnya merupakan fitrah bagi setiap manusia yang menjalaninya, karena
dengan cintalah manusia dapat belajar bagaimana cara mendapatkan dan
meraih serta mempertahankan atau bahkan membuang cinta itu sendiri.
Dengan kata lain dengan cinta maka manusia belajar mengenai
bagaimana cara berpolitik, berfilsafat, bertahan hidup, beranalisa,
berpandangan terhadap suatu hal, memanipulasi, berdusta hingga berbuat
sesuatu yang baik melebihi malaikat.
Jika dapat didefinisikan dengan sedikit arif dan bijaksana maka definisi cinta pada dasarnya sama halnya dengan definisi budaya atau kebudyaan. Karena dari cintalah terlahir cipta atau pikiran yang dapat menganalisis serta memanipulasi keadaan “positif atau negatif”. Dari
cintalah mampu melahirkan rasa dan unsur inilah yang mampu melahirkan
suatu seni tingkat tinggi. Dari cintalah terlahir suatu karsa atau
kehendak atau keinginan. Maka secara garis besar dapar ditarik sebuah
benang merah tentang cinta yang sama dengan budaya. Karena dari
cintalah terlahir sebuah peradaban dan budaya serta kebudayaan.
Sebagian dari kita masih banyak yang
mengagungkan cinta namun tidak sedikit pula yang mulai meninggalkan
keagungan dan kesucian dari nilai – nilai yang terkandung dalam cinta.
Jika dilihat dari keduanya, baik cinta dan budaya maka akan terdapat
pergeseran nilai dan norma yang menyelimutinya seperti apa yang telah
terlihat saat ini. Pergeseran – pergeseran tersebut tentunya tidak
lepas dari muatan – muatan atau kepentingan individu yang menjalaninya,
baik secara individual maupun sosial.
Dogma tentang keagungan cinta
dengan sendirinya akan gugur dengan sendirinya dalam sebuah sistem
sesuai dengan kebutuhan dan pergeseran nurani yang kian lama
kian memanas serta menipis. Kesucian cinta, keagungan cinta serta makna
tentang cinta akan menjadi sebuah dongeng penghantar tidur layaknya
kisah Romeo dan Juliet atau bahkan “Tarzan dalam lakon srimulat”.
Dengan kata lain cinta dengan dogma – dogma yang
membelenggunya mau tidak mau akan menganut suatu teori klasik evolusi
yang banyak menuai pertentangan bagi kaum gereja saat itu.
Ada tokoh – tokoh yang menganut dan menggembar – gemborkan tentang teori evolusi. Charles Darwin, merupakan tokoh yang mengatakan dan sekaligus mempublikasikan teori evolusi yang dianggap sesat bagi kaum gereja saat itu. Dalam Teori Evolusinya, Darwin menyandarkan pada organisme atau mahluk hidup
yang coba bertahan hidup untuk melestarikan spesiesnya dengan berbagai
cara, baik dengan cara hidup, makan, dan berpindah tempat dan lain
sebagainya hingga lama – kelamaan dalam kurun waktu yang ribuan atau
bahkan jutaan tahun mengalami perubahan pada diri organisme tersebut,
yang disebut adaptasi, baik morfologi, fisiologi hingga tingkah laku
sehinnga menjadi spesies baru.
Lain Darwin lan pula dena Lewis H
Morgan. Pada dasarnya terdapat kesamaan tokoh antara keduanya, yang
membedakan adalah jika Darwin menyandarkan teorinya pada mahluk hidup, Morgan menyandarkan teorinya pada sebuah tingkah laku yang dapat menghasilkan budaya dan kebudayaan.
Dengan kata lain Evolusi Morgan terjadi pada budaya. Morgan berpendapat
bahwa pada dasarnya perkembangan kebudayaan umat manusia pada awalnya
adalah sama dan seragam kemudian meningkat secara progresif. Artinya
adalah, perkembangan suatu budaya atau kebudayaan berkembang sesuai
kebutuhan dan pola pikir manusianya. Dimana kesemuanya itu dipengaruhi
oleh faktor – faktor lain, yaitu letak geografis, ekonomi dan lain
sebagainya.
Yang melatarbelakangi lahirnya
suatu kebudayaan dan peradaban adalah cinta. Sehingga dapat ditarik
suatu kesimpulan bahwa pada dasarnya cinta pun menganut teori evolusi.
Karena kemurnian, kesucian serta keagungan tentang cinta harus
dibenturkan oleh kebutuhan dalam dimensi ruang dan waktu. Secara
langsung dogma tentang cinta pun akan ber-evolusi dalam menghadapi
peradaban baru, zaman baru dengan segala hal yang mempengaruhi
sistemya. Keagungan tentang cinta harus bergeser menjadi nilai
nominal. Kemurnian tentang cinta harus dikotori dengan kepentingan.
Keagungan tentang cinta. Kesucian tentang cinta menjadi ajang
pembuktian untuk meniduri. Kearifan tentang cinta harus membabi buta
tanpa pandang bulu dan seterusnya.
Cinta…oh Cinta… Ini zaman baru yang penuh denga perubahan…
Dahulu cinta,… sekarang bagaimana dapat hidup dan makan…
Dahulu cinta,… sekarang bagaimana cara memperoleh dan mempertahankan harta serta mahkota…
Dahulu cinta,… Kenapa harus menderita…
Dahulu cinta,… sekarang apa aja lah …
Dahulu cinta,… sekarang hanya dongeng belaka…
Akankah cinta itu menganut teori yang
bertolak belakang dengan teori evolusi, yaiti teori historisme
terbalik. Dengan kata lain cinta sekarang mengalami kemunduran serta
mampu mengembalikan kesucian dan keagungannya. Karena sejatinya cinta
bentuk implementasi tentang jiwa dan kebutuhannya yang sekarang telah
diakomodir oleh kepentingan dan hasrat semata.




0 komentar:
Posting Komentar
Kumaha tah saur anjeun.....