UNTUK SAHABAT YANG MENJALIN HUBUNGAN RUMIT
Tersebutlah kisah di antara kisah-kisah paling tua di muka bumi ini. Ketika dua anak Adam, Qabil dan Habil, terlibat seteru soal pasangan hidup. Qabil tidak terima atas kenyataan bahwa dia mendapatkan jatah pasangan hidup yang bukan pujaan hatinya. Justru pada adiknya, Habil, sosok tambatan hati itu disandingkan. Sifat burukpun menyeruak dan mengambil alih kendali atas diri Qabil. Maka iapun menjadi kalap dan secara membabi buta tega menghabisi adiknya sendiri, Habil.
Tulisan ini tidak tertarik untuk menyoroti atau berpanjang kisah soal asmara itu, tetapi menaruh minat pada keadaan ketika Qabil kebingungan bagaimana memperlakukan mayat si Habil. Pikiranya “blank”, dia merasa bodoh dan tidak tahu harus berbuat apa. Cukup lama untuk ukuran detik dia berada dalam keadaan seperti itu, hingga akhirnya datanglah di depannya dua ekor burung gagak jantan yang bertarung entah memperebutkan apa.
Pertarungan ini rupanya menarik perhatian Qabil, hingga ia lupa akan masalahnya sendiri dan mayat adiknya itu. Dengan cermat ia terus memperhatikan duel dua burung gagak itu. Setelah beberapa lama dan dengan berdarah-darah, seekor gagak pun tewas. Pikiran si Qabil pun mulai tergelitik, “apa yang akan dilakukan oleh si gagak pemenang terhadap bangkai lawannya”? Si gagak pemenang terlihat mengais-ngais tanah sedemikian rupa hingga terbentuk lubang dengan ukuran tertentu. Lalu ia menyeret bangkai si lawan dan memasukkannya ke dalam lubang tadi, kemudian menimbunnya dengan tanah bekas galian. “Ah, betapa bodohnya aku, ini sungguh tak terpikirkan sebelumnya”. Lalu iapun melakukan hal serupa terhadap mayat Habil.
Pikiran manusia bekerja berdasarkan masukan data, peristiwa atau fenomena yang dilihat atau dialaminya. Ketika Archimedes sedang mentok pikiran untuk menemukan sebuah formula, otaknyapun menjadi “gerah” dan panas. Ia lalu menuju kamar mandi dan “nyemplung” seluruh badannya ke dalam bak mandi yang penuh air. Sesuatu kemudian terjadi dalam sekejap, ia telah mendapatkan inspirasi. Maka dengan penuh kegirangan ia berteriak sekeras-kerasnya “Eureka .. Eureka .. “ (Aku telah menemukan ..). Ya, pikiran tidak bisa bekerja tanpa data awal, tanpa peristiwa, tanpa gejala, tanpa stimulus, tanpa inspirasi .. Maka pengetahuan terkini, teknologi terkini tidak mungkin ada tanpa adanya rangkaian panjang pengetahuan, penemuan atau teknologi sebelumnya.
Facebook, dengan segala kelebihan dan eksesnya, dengan segala kemudahan dan kerumitan yang bisa muncul karenanya, merupakan buah karya teknologi sistem informasi yang luar biasa cakupan dan daya tariknya dalam mengisi hari-hari kita. Facebook (FB) benar-benar telah menggejala dan telah masuk begitu intens untuk menjadi “bagian wajib” dari rangkaian aktivitas keseharian kita. Pada ucapan Selamat Datang, FB menyapa kita dengan kalimat “Facebook membantu Anda terhubung dan berbagi dengan orang-orang dalam kehidupan Anda”. Kalimat sederhana dengan pengertian yang sederhana pula. Tapi berkat kreativitas penggunanya FB menjadi semarak, menarik, membuat ketagihan dan menjadi penyumbang terbesar bagi pundi-pundi pendapatan para pengusaha Warnet.
Adakah yang salah dari FB ketika ia dengan setia selalu menyapa ramah pengguna dengan pertanyaan “Apa yang Anda pikirkan?” Adakah yang keliru jika ia menyediakan fitur pesan, ruang chatting, kolom komentar dan contreng jempol? Semua itu memanjakan kita, seolah ia mengerti apa yang kita pikirkan dan rasakan pada suatu ketika.
Pada sisi positif, sebenarnya FB merupakan sederetan panjang jendela-jendela yang kita bisa dan boleh mampir untuk mencoba melihat sesuatu dari “sebuah sudut pandang”. Berbagai status, komentar, jempol, catatan dan tautan pada dasarnya merupakan mozaik yang sungguh amat sangat menarik dan jika kita bisa menerapkan pola berpikir positif, semua itu dapat dianggap sebagai kontribusi positif untuk memperkaya khazanah pengetahuan, pemahaman dan pengembangan kepribadian kita. Masalahnya kemudian muncul pada saat sebuah status, komentar, catatan atau bahkan jejak-jejak chatting, mengusik seseorang yang boleh jadi merupakan orang yang sangat dekat hubungannya dengan kita.
Sungguh patut kita sayangkan apabila jejaring pertemanan yang seharusnya menjadi ajang silaturrahmi ini, ternyata menimbulkan dampak negatif, yaitu menjadi penyebab rusaknya atau putusnya sebuah ikatan hubungan, entah itu hubungan persahabatan, hubungan antar dua kekasih atau bahkan hubungan suami istri. Sebab musababnya biasanya berkisar pada soal chatting, yang pada beberapa kasus memang terbukti bisa berlanjut ke arah perselingkuhan. Naudzubillahi min dzallik.
Nah, berarti pokok soalnya adalah bagaimana kita mengantisipasi agar kejadian itu tidak menimpa diri kita dan pasangan kita. Jawabannya tentu terpulang pada diri kita, bagaimana kita terus menguatkan kesadaran tentang pentingnya menjaga keutuhan sebuah hubungan, bagaimana tingkat kematangan kita menyikapi suatu “peristiwa” secara proporsional. Di era Facebook ini memang sulit untuk menetapkan sebuah batasan yang baku bagaimana kita bisa mengontrol secara arif pasangan kita tapi tidak terkesan mengekangnya. Tapi tentunya rentang batasan itu ada di antara “jangan terlalu kaku/saklek” dan “jangan terlalu longgar”.
Ketika sebuah hubungan menjadi rumit karena sebuah “arus pendek” maka yang paling bijak adalah berani bertanya pada hati nurani terdalam “apakah rasa sayang ini masih ada?” Jika jawabannya bulat ada, maka bergegaslah untuk memperbaikinya dengan cara pandang baru, dengan semangat baru dan cara baru. Lepaskan egoisme masing-masing, karena itu adalah penghalang sejati untuk sebuah pemulihan hubungan. Ingatlah, satu belahan jiwa tidak akan merindukan kecuali belahan jiwanya yang lain. Ah, akhirnya tulisan ini ditutup juga dengan kisah asmara.
BE ENJOY WITH YOUR FACEBOOK.
Bumi Argopuro, 23 Maret 2010



0 komentar:
Posting Komentar
Kumaha tah saur anjeun.....