BARNER BLOGGER

Blog Sejarah Seni dan Budaya

KIRIM CERITA ANDA KE EMAIL KAMI

RENUNGAN JIWA ENCUM NURHIDAYAT

Lencana Facebook

Entri Populer

IKLAN BLOG

PENGUNJUNG/ PEMBACA

SEKILAS SEJARAH KARAWANG

Keberadaan Karawang mula-mula dilaporkan oleh De Barros. Menurut catatan Barros, ketika Malaka jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511, Sangiang Sunda/ Prabu Surawisesa  mengadakan hubungan dagang dengan Portugis melalui enam pelabuhan yaitu Chiamo, Caravam, Tangaram, Cheguide, Pondang, dan Bantam (Djajadiningrat, 1983: 83). Barros tampaknya dalam melakukan perjalan dimulai dari arah timur ke barat. Chiamo yang dimaksudkannya adalah Indramayu, Caravam adalah Karawang, Tangaram sekarang dikenal dengan Tangerang dan seterusnya hingga Banten. Dalam istilah lokal, sebutan Karawang berasal dari kata ka-rawa-an yang artinya daerah berrawa-rawa.

Sejarah Karawang menurut historiografi lokal dimulai sejak kedatangan Syeikh Hasanudin (Warliyah dan Wahyudin, 2007). Pada sekitar abad ke-15 M, agama Islam masuk ke Karawang yang dibawa oleh ulama besar Syeikh Hasanudin bin Yusup Idofi dari Champa yang terkenal dengan sebutan Syeikh Quro. Pada masa itu daerah Karawang sebagian besar masih merupakan hutan belantara dan berawa-rawa. Keberadaan Karawang telah dikenal sejak Kerajaan Pajajaran yang berpusat di daerah Bogor, karena pada masa itu Karawang merupakan jalur lalu lintas yang sangat penting untuk menghubungkan Kerajaan Pakuan Pajajaran dengan Galuh Pakuan yang berpusat di daerah Ciamis. Luas wilayah Kabupaten Karawang pada saat itu, tidak sama dengan luas wilayah Kabupaten Karawang pada masa sekarang. Pada waktu itu luas wilayah Kabupaten Karawang meliputi Bekasi, Purwakarta, Subang dan Karawang sendiri .

Setelah Kerajaan Pajajaran runtuh pada tahun 1579 M, pada tahun 1580 M berdiri Kerajaan Sumedanglarang sebagai penerus Kerajaan Sunda Pajajaran dengan rajanya Prabu Geusan Ulun/ Prabu Angkawijaya. Kerajaan Islam Sumedanglarang, pusat pemerintahannya di Dayeuhluhur dengan membawahi Sumedang, Galuh, Limbangan, Sukakerta, dan Krawang. Pada tahun 1608 Prabu Geusan Ulun wafat dan digantikan oleh putranya Rangga gempol  Kusumahdinata. Pada masa itu di Jawa Tengah telah berdiri Kerajaan Mataram dengan rajanya Sultan Agung (1613 - 1645). Salah satu cita-cita Sultan Agung pada masa pemerintahannya adalah dapat menguasai Pulau Jawa dan mengusir Kompeni (Belanda) dari Batavia (Lubis, 2000: 71 – 78).

Rangga gempol Kusumahdinata sebagai Raja Sumendanglarang masih mempunyai hubungan keluarga dengan Sultan Agung dan mengakui kekuasaan Mataram (Warliyah dan Wahyudin, 2007). Maka pada Tahun 1620, Ranggagempol Kusumahdinata menghadap ke Mataram dan menyerahkan kerajaan Sumedanglarang di bawah naungan Kerajaan Mataram. Ranggagempol Kusumahdinata oleh Sultan Agung diangkat menjadi Bupati (Wadana) untuk tanah Sunda dengan batas-batas wilayah di sebelah timur Kali Cipamali, di sebelah barat Kali Cisadane, di sebelah utara Laut Jawa, dan di sebelah selatan Laut Kidul. Pada Tahun 1624 Ranggagempol Kusumahdinata wafat, dan sebagai penggantinya Sultan Agung mengangkat Ranggagede, Putra Prabu Geusan Ulun dari Nyai Gedèngwaru. Ranggagempol II, putra Ranggagempol Kusumahdinata yang semestinya menerima tahta kerajaan, merasa disisihkan dan sakit hati. Kemudian beliau berangkat ke Banten untuk meminta bantuan Sultan Banten agar dapat menaklukkan Kerajaan Sumedang larang dengan imbalan apabila berhasil, maka seluruh wilayah kekuasaan Sumedang larang akan diserahkan kepada Banten.

Sejak itu banyak tentara Banten yang dikirim ke Karawang terutama di sepanjang Sungai Citarum, di bawah pimpinan Sultan Banten bukan saja untuk memenuhi permintaan Ranggagempol II, tetapi merupakan awal usaha Banten untuk menguasai Karawang sebagai persiapan merebut kembali pelabuhan Banten yang telah dikuasai oleh Kompeni (Belanda), yaitu pelabuhan Sunda Kelapa. Masuknya tentara Banten ke Karawang beritanya telah sampai ke Mataram. Pada Tahun 1624, Sultan Agung mengutus Surengrono (Aria Wirasaba) dari Mojo Agung, Jawa Timur untuk berangkat ke Karawang dengan membawa 1.000 prajurit dengan keluarganya, dari Mataram melalui Banyumas dengan tujuan untuk membebaskan Karawang dari pengaruh Banten, mempersiapkan logistik dengan membangun gudang-gudang beras dan meneliti rute penyerangan Mataram ke sepanjang Sungai Citarum yang diduduki pasukan Banten.

Langkah awal yang dilakukan Aria Surengrono adalah dengan mendirikan tiga desa yaitu Waringinpitu (Telukjambe), Desa Parakansapi di Kecamatan Pangkalan (sekarang telah terendam Waduk Jatiluhur kabupaten Purwakarta sekarang), dan Desa Adiarsa (sekarang termasuk di Kecamatan Karawang Barat), dengan pusat kekuatan ditempatkan di Desa Waringinpitu. Akibat jauh dan sulitnya hubungan antara Karawang dengan Mataram, maka Aria Wirasaba belum sempat melaporkan tugas yang sedang dilaksanakan kepada Sultan Agung. Keadaan ini menjadikan Sultan Agung mempunyai anggapan bahwa tugas yang diberikan kepada Aria Wirasaba gagal dilaksanakan.

Demi menjaga keselamatan wilayah Kerajaan Mataram sebelah barat, pada tahun 1628 dan 1629 Masehi, bala tentara Kerajaan Mataram diperintahkan Sultan Agung untuk melakukan penyerangan kembali. Menurut kajian H.J. de Graaf, penyerangan Mataram ke Batavia pada tahun 1628 diawali dengan blokade kota-kota pantai utara atas perintah Tumenggung Baureksa dari Kendal. Selanjutnya, dilakukan penyerangan dipimpin oleh Dipati Mandurareja dan Upa Santa. Tumenggung Baureksa turut memberi bantuan kekuatan pasukan tetapi akhirnya gagal dan turut menjadi korban (Graaf, 2002: 177 – 184). Kegagalan ini dinilai karena kurangnya logistik bagi pasukan Mataram. Sultan Agung kemudian menetapkan daerah Karawang sebagai pusat logistik yang harus mempunyai pemerintahan sendiri dan langsung berada di bawah pengawasan Mataram. Karawang harus dipimpin oleh seorang pemimpin yang cakap dan ahli perang sehingga mampu menggerakkan masyarakat untuk membangun pesawahan guna mendukung pengadaan logistik dalam rencana penyerangan kembali terhadap pasukan Banten.

Pada tahun 1632, Sultan Agung mengutus kembali Wiraperbangsa dari Galuh dengan membawa 1.000 prajurit dengan keluarganya menuju Karawang. Tujuan pasukan yang dipimpin oleh Wiraperbangsa adalah membebaskan Karawang dari pengaruh Banten, mempersiapkan logistik sebagai bahan persiapan melakukan penyerangan terhadap VOC (Belanda) di Batavia, sebagaimana halnya tugas yang diberikan kepada Aria Wirasaba yang dianggap gagal. Tugas yang diberikan kepada Wiraperbangsa dapat dilaksanakan dengan baik dan hasilnya langsung dilaporkan kepada Sultan Agung. Atas keberhasilannya Wiraperbangsa dianugrahi jabatan Wedana (Setingkat Bupati) di Karawang oleh Sultan Agung dan diberi gelar Adipati Kertabumi III serta diberi hadiah sebilah keris yang bernama "Karosinjang".

Setelah penganugrahan gelar tersebut yang dilakukan di Mataram, Wiraperbangsa bermaksud akan segera kembali ke Karawang. Sebelum ke Karawang beliau singgah dahulu di Galuh, tetapi kemudian wafat disana. Dengan wafatnya Wiraperbangsa, jabatan Bupati Karawang dilanjutkan oleh putranya yang bernama Raden Singaperbangsa dengan gelar Adipati Kertabumi IV yang memerintah pada tahun 1633-1677. Tanggal 14 September 1633 M, bertepatan dengan tanggal 10 Maulud 1043 H, Sultan Agung melantik Singaperbangsa sebagai Bupati Karawang yang pertama, sehingga secara tradisi setiap tanggal 10 Maulud diperingati sebagai Hari Jadi Kabupaten Karawang.




Sumber : Nanang Saptono


0 komentar:

Posting Komentar

Kumaha tah saur anjeun.....

adsense

MUTIARA HATIKU