KARAWANG DALAM WACANA
PURWA WACANA
Berbincang tentang wilayah Karawang,
kenangan diajak menerawang ke masa lampau sejak perjalanana peradaban penghuni
di Tatar Sunda khususnya dan wilayah Nusantara umumnya mulai menapaki awal
perjalanan keberadaanya.
Memang adakalanya berbincang
tengtang masa lalu kadang terperangkap pada suasana emosi yang penuh romantisme
dan nostalgia. Dan keadaan seperti itu tidak kita kehendaki, dan perbincangan
kita tidak mengarah kepada “mimpi nan indah masa lampau”. Dambaan kita adalah
firman-Nya, “Bahwa hari esok akan lebih baik dari hari sekarang asal bila
selesai satu pekerjaan kita garap yang lainnya. Bukankah disabdakan-Nya pula
suatu perubahan hanya dapat terjadi bila kita mau merubahnya”.
Berbincang tentang masa lalu, dalam
usaha untuk mencoba mencari “KARAKTER” khas wilayah Karawang dan
stakeholders-nya, mungkin perlu dicoba agar kita bisa membangun wilayah tempat
kita hidup “lemah cai geusan jadi, sarakan paduriatan” sesuai dengan fitrah
Ilahiah dan insaniahnya. Bukankah segala sesuatu akan sejahtera bila lingkungan
hidupnya serasi dengan fitrahnya.
Pada saat ini bila kita
berkesempatan memasuki kota-kota yang berada di Tatar Sunda - Jawa Barat, yang
terasa dan terekam sebagian besar adalah atmosfir kehidupan kota-kota
bernuansakan “jaman sekarang” - kota metropolis - yang hampir seragam
keadaannya. Kota Karawang pun tidak terkecuali akan menuju kota metropolis,
karena secara georagrafis kewilayahannya begitu dekat dengan Kota Jakarta, yang
sudah lebih dulu menjadi metropolitan dengan sejumlah permasalahan yang
menimpanya.
Permasalahan yang dihadapi para
stakeholders di setiap kota besar itu pun hampir seragam pula. Antara lain
permukiman kumuh, sampah yang selalu menjadi masalah, perihal air yang semakin
mengkhawartirkan baik kualitas maupun kuantitasnya. Ini baru masalah yang
berskala fisik, belum lagi masalah kehidupan lainnya yang menyangkut kualitas
penduduknya. Kehidupan manusia di kota-kota modern sangat rentan untuk
timbulnya berbagai penyakit yang menerpa fisik dan psikis penduduknya sebagai akibat
dari polusi, kontaminasi, radiasi, kesibukan, stres, kelelahan, kekenyangan
karena serba dimakan, kelaparan dan kurang gizi karena tak teratur makan,
kesenangan ragawi tanpa kendali dsb. Keadaan ini bila tidak diantisipasi dengan
segera akan terus menurunkan kualitas pembangunan manusia yang sehat sejahtera.
Bukankah Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Jawa Barat hanya menduduki
nomor 17 dari 26 provinsi di bawah IPM Provinsi Papua dan NAD. *)
IPM Kabupaten Karawang pun belum
menggembirakan, masih sangat memerlukan kerja keras dari seluruh fihak. Menurut
catatan resmi ada enam kabupaten di Prop. Jawa Barat yang IPM-nya masih harus
ditingkatkan, yaitu kabupaten : Garut, Karawang, Sukabumi, Cirebon, Majalengka
dan Indramayu. **)
Demikian pula yang tengah dialami
NKRI dewasa ini, tiga aspek penanda signifikan menginformasikan bahwa dunia
pendidikan di negara kita adalah peringkat ke-49 dari 49 negara berkembang,
berarti peringkat terbawah. Dalam bidang ekonomi urutan NKRI adalah ke-48 dari
49 negara berkembang. Yang paling memilukan, NKRI adalah peringkat ke-2 negara
yang paling korup dari 49 negara berkembang. Mau berkelit bagaimana lagi bagi
kita, bila telah demikian nyata keadaannya. ***)
Sumber:
Informasi Dinas Tarkim, 6-8-2004.
**) Sosialisasi Konsep IPM dan pemanfaatan dalam Perencanaan Pembangunan. BAPEDA Jabar. 2001.
***) Solihin G.P dalam PR , 16-8-2004.
Informasi Dinas Tarkim, 6-8-2004.
**) Sosialisasi Konsep IPM dan pemanfaatan dalam Perencanaan Pembangunan. BAPEDA Jabar. 2001.
***) Solihin G.P dalam PR , 16-8-2004.
RUTR DAN RTRW KARAWANG
Tentulah Pemda Kabupaten Karawang
telah mempunyai RUTR (Rencana Umum Tata Ruang) dan RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah)
yang telah terjabarkan secara rinci. Adapun titik berat kewilayahan agar
berhasil adalah kesesuaian rencana dan aplikasinya dengan “karakter
sosio-geografis dan budaya setempat” dan pada gilirannya nanti pembangunan
wilayah akan bertumpu pada kualitas karakter masyarakat setempat.
Menyimak kontur geografis wilayah
Karawang, sebagian besar adalah daerah pesisir dan dataran yang luas
terbentang. Maka karakter wilayahnya akan terpusat pada pertanian khususnya
sawah dan penangkapan ikan laut (baik nelayan maupun pembudidayaan). Filsafat
kehidupan masyarakatnya harus mengacu kepada pemuliaan air dan tanah termasuk
pantai dan hutan pantainya (bakau). Kesadaran pemulian tanah dengan memelihara
kualitas “hara” yang alami serta pemuliaan air secara kualitas dan kuantitas
harus menjadi acuan berkehidupan masyarakat Karawang.
Kini di wilayah Karawang bermunculan
industri dalam berbagai skala. Salah satu hal yang perlu mendapat perhatian
serius, yaitu dampak polusi limbahnya yang mungkin akan sangat mempengaruhi kualitas
tanah dan air sekitarnya. Kesadaran dari semua fihak untuk menjaga lingkungan
hidup dan habitat biotanya perlu ditumbuhkan, supaya terjadi sinergi yang
saling menguntungkan tanpa merusak lingkungannya.
WILAYAH KARAWANG SALAH SATU PENANDA
SITUS SEJARAH SUNDA
Secara toponimi nama Karawang
diperkirakan berasal dari:
- Kata “Karawaan” yang berarti wilayah yang banyak
rawanya.
- Ada pula yang memaknai berasal dari kata “Quro-wang”
yang berasal dari tempat Syeh Quro (yaitu pasantren yang pertama ada di
wilayah Tatar Sunda yang terletak di wilayah Karawang sekarang;
salaseorang santri wanitanya adalah Puteri Subanglarang yang diperisteri
oleh Prabu Sri Baduga Maharaja/Siliwangi) dan kata “wang = wong, orang”.
- Karawang > dikarawang = tepi kain (selendang) yang diberi
ornamen berlubang agar menjadi indah.
Asal kata yang mana yang akan
dijadikan acuan, tidak menjadi masalah, semuanya mengandung makna yang positif,
misalnya:
- Bila mengacu pada kata Karawang < karawaan, artinya
daerah berawa yang tentu tidak akan kekurangan air, filosofi air menjadi
acuannya.
- Bila hendak mengacu kepada kata “Quro-wang”. Mengandung
makna yang sangat religius, maka sepantasnya wilayah Karawang beserta
penduduk dan para pemimpinnya berkualitas akhlak religius (khususnya
Islami).
- Bila mengacu kepada kata “karawang” yang berarti
ornamen nan indah, tentulah wilayah Karawang harus menjadi wilayah yang
indah tertata rapih permukimannya serta indah pula perangai akhlak
penduduknya.
Akhir-akhir ini ternyata wilayah
Karawang menjadi salah satu penanda awal dari situs kesejarahan/arkeologi di
wilayah Tatar Sunda. Eskavasi situs Batujaya dan sekitarnya menunjukkan
kualitas “peradaban” yang tinggi pada masanya. Dari wilayah Karawang inilah
peradaban Tatar Sunda mulai menyebar ke seantero wilayah Jawa Barat malah
melampaui batas wilayah admisnistrasi memasuki wilayah Jawa Tengah.
Sejak ditemukan sekitar tahun 1984
sampai sekarang komplek percandian ini telah mengundang perhatian yang luas
dari berbagai pihak untuk melakukan penelitian. Beberapa lembaga resmi yang
terlibat secara langsung dalam upaya mengungkap eksistensi situs ini adalah
Pusat Penelitian Arkeologi (dahulu bernama Pusat Penelitian Arkeologi
Nasional), Direktorat Perlindungan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala,
dan Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Bahkan penelitian yang
berkesinambungan telah dilakukan oleh Pusat Penelitian Arkeologi sejak tahun
1992 sampai sekarang.
Saat ini diketahui bahwa Situs
Batujaya merupakan sebuah komplek percandian yang tersebar dalam radius 5 kilometer
dan berada sekitar 6 km arah selatan dari pantai utara Jawa Barat. Sampai saat
ini telah ditemukan 24 titik lokasi/unur yang diduga mengandung tinggalan
arkeologi di dalamnya, 13 lokasi berada di Desa Segaran dan 11 lokasi berada di
Desa Telagajaya. ****)
Kesadaran akan sejarah wilayahnya
akan memperkuat jatidiri penduduk wilayah tsb. seperti yang dikatakan seorang
sosiolog dari Barat yaitu Miland Kundera menyebutkan bahwa “Menghancurkan suatu
bangsa hilangkan saja kebanggaan akan sejarahnya”, dengan kalimat lain
“hancurnya suatu bangsa bila bangsa tsb tidak lagi bangga akan sejarahnya”.
Demikian pula siapa yang tidak mengenal sajak Khairil Anwar “Antara
Karawang-Bekasi” yang demikian patriotis. Semoga saja ruh patriotik ini selalu
mengalir dalam darah dan nafas penduduk Karawang serta para pemimpinnya.
Patriotismee dan kesadaran akan sejarah bangsa sangierlu pada waktuini, ketika
rsa nasionalisme murkikir dari reluhatanak bangsa. Pada saat ini begitu banyak
anak bangsa yang lebih merasa bangga dengan bangsa dan negara lain daripada
negaranya sendiri.
PUNGKAS WACANA
Menyimak wacana di atas ternyata
masih banyak pekerjaan yang menunggu kreatifitas dan etos kerja serta
kesungguhan hati dari seluruh putera-puteri Karawang beserta para pemimpinnya
dalam menata kesejahteraan wilayahnya.
Semoga Allah SWT selalu melimpahkan inayyah, hidayah serta magfirahnya kepada kita semua yang tengah menapaki kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang Madani Mardotillah. Amin!
Semoga Allah SWT selalu melimpahkan inayyah, hidayah serta magfirahnya kepada kita semua yang tengah menapaki kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang Madani Mardotillah. Amin!
Alhamdulillahirrobbil’alamin.
Sumber:
Disbudpar Prop. Jabar 2004.
Disbudpar Prop. Jabar 2004.




0 komentar:
Posting Komentar
Kumaha tah saur anjeun.....