KERAJAAN KANDIS ADALAH ATLANTIS
Namun
sampai saat ini belum pernah melakukan penelusuran ke lokasi yang dimaksud.
Diyakini Istananya masih utuh karena peradaban Kandis sudah sangat maju, peralatannya
terbuat dari emas, perak dan perunggu.
Cerita
Istana Dhamna mirip dengan cerita Benua Atlantis yang pertama kali ditulis
dalam sebuah dialogue karya Plato yang berjudul Timateus and Critias sekitar
tahun 370 SM, disana dikatakan ada negeri subur, makmur, dan berteknologi maju.
Negeri itu hancur karena bencana alam, Plato sendiri mendapat kisah ini dari
penduduk Mesir, dan orang di Mesir menyebutnya Keftiu.
Atlantis
itu artinya : Tanahnya Atlas – Negeri 2 pilar/tiang yang bisa diartikan sebagai
negeri dengan pegunungan-pegunungan.
Atlantis
dikenal sangat subur, makmur, berteknologi tinggi, dengan kota berbentuk
lingkaran/cincin yang tersusun daratan dan perairan secara berurutan, negeri
ini disusun berdasarkan perhitungan matematika yang tepat dan efisien sehingga
tertata dengan rapi dengan sebuah istana megah tepat di pusat kota sebagai
pusat pemerintahan. Penduduk Atlantis terbagi dua, yang satu adalah turunan
bangsa Lemuria yang berkulit putih, tinggi, bermata biru dan berambut pirangan,
yang merupakan nenek moyang suku bangsa arya, sedang satunya lagi berkulit
coklat/hitam, relatif pendek, bermata coklat, dan berambut hitam.
Penelitian
mutakhir yang dilakukan oleh Aryso Santos, menegaskan bahwa Atlantis itu adalah
wilayah yang sekarang disebut Indonesia. Setelah melakukan penelitian selama 30
tahun, ia menghasilkan buku Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The
Definitifve Localization of Plato’s Lost Civilization (2005). Santos
menampilkan 33 perbandingan, seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung
berapi, dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah
Indonesia. Sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia, menurutnya, ialah
bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno
Aztec di Meksiko.
Merujuk
penelitian Santos, pada masa puluhan ribu tahun yang lalu wilayah negara
Indonesia merupakan suatu benua yang menyatu. Tidak terpecah-pecah dalam
puluhan ribu pulau seperti halnya sekarang. Santos menetapkan bahwa pada masa
lalu itu Atlantis merupakan benua yang membentang dari bagian selatan India,
Sri Lanka, Sumatra, Jawa, Kalimantan, terus ke arah timur dengan Indonesia
(yang sekarang) sebagai pusatnya. Di wilayah itu terdapat puluhan gunung berapi
yang aktif dan dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama Orientale,
terdiri dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.
Teori
Plato menerangkan bahwa Atlantis merupakan benua yang hilang akibat letusan
gunung berapi yang secara bersamaan meletus. Pada masa itu sebagian besar
bagian dunia masih diliput oleh lapisan-lapisan es (era Pleistocene) . Dengan
meletusnya berpuluh-puluh gunung berapi secara bersamaan yang sebagian besar
terletak di wilayah Indonesia (dulu) itu, maka tenggelamlah sebagian benua dan
diliput oleh air asal dari es yang mencair. Di antaranya letusan gunung Meru di
India Selatan dan gunung Semeru/Sumeru/ Mahameru di Jawa Timur. Lalu letusan
gunung berapi di Sumatera yang membentuk Danau Toba dengan pulau Samosir, yang
merupakan puncak gunung yang meletus pada saat itu. Letusan yang paling dahsyat
di kemudian hari adalah gunung Krakatau (Krakatoa) yang memecah bagian Sumatera
dan Jawa dan lain-lainnya serta membentuk selat dataran Sunda.
Atlantis
berasal dari bahasa Sanskrit Atala, yang berarti surga atau menara peninjauan
(watch tower), Atalaia (Portugis), Atalaya (Spanyol). Plato menegaskan bahwa
wilayah Atlantis pada saat itu merupakan pusat dari peradaban dunia dalam
bentuk budaya, kekayaan alam, ilmu dan teknologi, dan lain-lainnya. Plato
menetapkan bahwa letak Atlantis itu di Samudera Atlantik sekarang. Santos
berbeda dengan Plato mengenai lokasi Atlantis.
Ilmuwan
Brazil itu berargumentasi, bahwa pada saat terjadinya letusan berbagai gunung
berapi itu, menyebabkan lapisan es mencair dan mengalir ke samudera sehingga
luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung berapi tersebut
membebani samudera dan dasarnya, mengakibatkan tekanan luar biasa kepada kulit
bumi di dasar samudera, terutama pada pantai benua. Tekanan ini mengakibatkan
gempa. Gempa ini diperkuat lagi oleh gunung-gunung yang meletus kemudian secara
beruntun dan menimbulkan gelombang tsunami yang dahsyat. Santos menamakannya
Heinrich Events.
Dalam
usaha mengemukakan pendapat berdasarkan kepada sejarah dunia, tampak Plato
telah melakukan kekhilafan, mengenai letak benua Atlantis yang katanya berada
di Samudera Atlantik yang ditantang oleh Santos. Penelitian militer Amerika
Serikat di wilayah Atlantik terbukti tidak berhasil menemukan bekas-bekas benua
yang hilang itu.
Lenyapnya
Negeri Atlas disebabkan karena peristiwa besar terjadi, yaitu terjadinya
letusan besar dari dua gunung berapi (pilar) yang mengapit, yaitu Krakatoa dan
Toba. Saking dahsyatnya seluruh bumi berguncang hebat sehingga menimbulkan
tsunami yang maha dahsyat, lebih hebat dari pada tsunami yang terjadi pada
akhir tahun 2004. Gunung krakatoa dan toba adalah gunung prasejarah yang
berukuran sangat besar, gunung krakatoa sekarang dan danau toba adalah kaldera
raksasa yang tercipta akibat letusan tersebut. Letusan gunung toba sampai saat
ini belum tau pasti kapan terjadinya, namun letusan Karaktoa yang paling
dahsyat diketahui terjadi pada tahun 1883 M (puncak letusan Krakatoa).
Istana
Dhamna menurut tombo/cerita bukan tenggelam ke dasar lautan, akan tetapi diduga
kuat tertimbun akibat abu vulkanik dari dua gunung yang bersamaan meletus.
Lokasi Istana Dhamna tersebut adalah di Lubuk Jambi, Kecamatan Kuantan Mudik
Kabupaten Kuantan Singingi Propinsi Riau. Apakah Istana Dhamna yang dimaksud
oleh Plato sebagai Benua Atlantik? Suatu pertanyaan yang belum terjawab.
Pulau
Sumatera dalam Lintasan Sejarah
Pulau
Perca adalah salah satu sebutan dari nama Pulau Sumatera sekarang. Pulau ini
telah berganti-ganti nama sesuai dengan perkembangan zaman. Diperkirakan pulau
ini dahulunya merupakan satu benua yang terhampar luas di bagian selatan
belahan bumi. Karena perubahan pergerakan kulit bumi, maka ada benua-benua yang
tenggelam ke dasar lautan dan timbul pulau-pulau yang berserakan. Pulau Perca
ini timbul terputus-putus berjejer dari utara ke selatan yang dibatasi oleh
laut. Pada waktu itu Pulau Sumatera bagaikan guntingan kain sehingga pulau ini
diberi nama Pulau Perca. Pulau Sumatera telah melintasi sejarah berabad-abad
lamanya dengan beberapa kali pergantian nama yaitu: Pulau Perca, Pulau Atlas,
Pulau Emas (Swarnabumi), Pulau Andalas dan terakhir Pulau Sumatra.
Pulau
Perca terletak berdampingan dengan Semenanjung Malaka yang dibatasi oleh Selat
Malaka dibagian Timur dan Samudra Hindia sebelah barat sebagai pembatas dengan
Benua Afrika. Pulau Perca berdekatan dengan Semenanjung Malaka, maka jelas
daerah yang dihuni manusia pertama kalinya berada di Pantai Timur Pulau Perca
karena lebih mudah dijangkau dari pada Pantai bagian barat. Pulau Perca yang
timbul merupakan Bukit Barisan yang berjejer dari utara ke selatan, dan yang
paling dekat dengan Semenanjung Malaka diperkirakan adalah Bukit Barisan yang
berada di Kabupaten Kuantan Singingi sekarang, tepatnya adalah Bukit Bakar yang
bertalian dengan Bukit Betabuh dan Bukit Selasih, sedangkan daratan yang rendah
masih berada di bawah permukaan laut.
Istana Dhamna Sebagai Pusat Kerajaan Kandis
Ratusan
tahun sebelum Masehi Bukit Bakar mulai didatangi oleh Pendatang yang kurang
jelas asal usulnya. Populasi penduduk makin lama makin berkembang, yang
akhirnya memerlukan suatu aturan dalam kehidupan bermasyarakat. Kemudian
berdirilah Kerajaan Kandis di Bukit Bakar yang diperintah oleh Raja Darmaswara
yang disingkat dengan Daswara. Raja Darmaswara dalam menjalankan roda
pemerintahannya dibantu oleh Patih dan Temenggung serta Mentri Perdagangan.
Darmaswara membangun sebuah istana yang megah sebagai pusat pemerintahan yang
diberi nama dengan Istana Dhamna.
Kehidupan
ekonomi kerajaan Kandis ini adalah dari hasil hutan seperti damar, rotan, dan
sarang burung layang-layang, dari hasil bumi seperti emas, perak, dan
lain-lain. Daerah kerajaan Kandis kaya akan emas, sehingga Raja Darmaswara
memerintahkan untuk membuat tambang emas di kaki Bukit Bakar yang dikenal
dengan tambang titah, artinya tambang emas yang dibuat berdasarkan titah raja.
Sampai saat ini bekas peninggalan tambang ini masih dinamakan dengan tambang
titah.
Hasil
hutan dan hasil bumi Kandis diperdagangkan ke Semenanjung Malaka oleh Mentri
Perdagangan Dt. Bandaro Hitam dengan memakai ojung atau kapal kayu. Dari Malaka
ke Kandis membawa barang-barang kebutuhan kerajaan dan masyarakat. Demikianlah
hubungan perdagangan antara Kandis dan Malaka selama berabad-abad sampai Kandis
mencapai puncak kejayaannya. Mentri perdagangan Kerajaan Kandis yang
bolak-balik ke Semenanjung Malaka membawa barang dagangan dan menikah dengan
orang Malaka. Sebagai orang pertama yang menjalin hubungan perdagangan dengan
Malaka dan meninggalkan sejarah Kerajaan Kandis dengan Istana Dhamna kepada
anak istrinya di Malaka dan Kepulauan Riau.
Raja Darmaswara
memerintah dengan adil dan bijaksana. Pada puncak kejayaannya terjadilah
perebutan kekuasaan oleh bawahan Raja yang ingin berkuasa sehingga terjadi
fitnah dan hasutan. Orang-orang yang merasa mampu dan berpengaruh
berangsur-angsur pindah dari Bukit Bakar ke tempat lain diantaranya ke Bukit
Selasih dan akhirnya berdirilah kerajaan Kancil Putih di Bukit Selasih
tersebut.
Air laut
semakin surut sehingga daerah Kuantan makin banyak yang timbul. Kemudian
berdiri pula kerajaan
Koto Alang di Botung (Desa Sangau sekarang) dengan Raja Aur Kuning
sebagai Rajanya. Penyebaran penduduk Kandis ini ke berbagai tempat yang telah
timbul dari permukaan laut, sehingga berdiri juga Kerajaan Puti Pinang
Masak/Pinang Merah di daerah Pantai (Lubuk Ramo sekarang). Kemudian juga
berdiri Kerajaan Dang Tuanku di Singingi dan kerajaan Imbang Jayo di Koto Baru
(Singingi Hilir sekarang).
Dengan
berdirinya kerajaan-kerajaan baru, maka mulailah terjadi perebutan wilayah
kekuasaan yang akhirnya timbul peperangan antar kerajaan. Kerajaan Koto Alang
memerangi kerajaan Kancil Putih, setelah itu kerajaan Kandis memerangi kerajaan
Koto Alang dan dikalahkan oleh Kandis. Kerajaan Koto Alang tidak mau diperintah
oleh Kandis, sehingga Raja Aur Kuning pindah ke daerah Jambi, sedangkan Patih
dan Temenggung pindah ke Merapi (Sumatra Barat sekarang).
Kepindahan
Raja Aur Kuning ke daerah Jambi menyebabkan Sungai yang mengalir di samping
kerajaan Koto Alang diberi nama Sungai Salo, artinya Raja Bukak Selo (buka
sila) karena kalah dalam peperangan. Sedangkan Patih dan Temenggung lari ke
Gunung Merapi (Sumatra Barat) dimana keduanya mengukir sejarah Sumatra Barat,
dengan berganti nama Patih menjadi Dt. Perpatih nan Sabatang dan Temenggung
berganti nama menjadi Dt. Ketemenggungan. Kedua Tokoh inilah yang menjadi Tokoh
Legendaris Minangkabau.
Setelah
kerajaan Kandis mengalahkan Kerajaan Koto Alang, Kandis memindahkan pusat
pemerintahannya ke Taluk Kuantan oleh Raja Darmaswara (tidak diketahui Raja
Darmaswara yang ke berapa). Pemindahan pusat pemerintahan Kandis ini disebabkan
oleh bencana alam (tidak diketahui tahun terjadinya) yang mengakibatkan Istana
Dhamna hilang tertimbun tanah atau mungkin oleh perbuatan makhluk halus yang
menghilangkan istana dari pandangan manusia.
Istana
Dhamna yang hilang ini pernah diperlihatkan pada tahun 1984 kepada 7 (tujuh)
orang Lubuk Jambi yang waktu itu mencari goa sarang layang-layang (walet) yang
dipimpin oleh seorang guru Tharekat yang bergelar Pokiah Lunak. Mereka melihat
istana itu lengkap dengan pagar batu disekelilingnya. Pada tahun 1986 untuk
kedua kalinya pagar istana diperlihatkan kepada tiga orang yang sedang mencari
rotan/manau. Berita penemuan Istana ini menyebar dan besok harinya banyak
penduduk pergi ingin melihatnya, namun tidak ditemukan lagi. Begitulah sebagai
bukti istana yang hilang yang bernama Istana Dhamna sebagai peninggalan sejarah
Kerajaan Kandis, satu kerajaan yang tertua di Indonesia.
Pada
tahun 1375 M Dt. Perpatih Nan Sabatang dan Dt. Ketemenggungan dan beberapa
orang lainnya hilir berakit kulim sebagai napak tilas pertama menelusuri negeri
asal mereka melalui sungai keruh sesuai dengan peninggalan sejarah dari
leluhurnya Dt. Perpatih Nan Sabatang yang pertama pindah ke Sumatra Barat.
Dalam pelaksanaan hilir berakit tersebut banyak kesulitan karena sungai masih
sempit banyak kayu dan akar yang menjuntai ke sungai, sehingga rakit sering
tersangkut. Untuk mengelakkan halangan ini Dt. Perpatih Nan Sabatang selalu
memerintahkan kuak-kan-tan, yang akhirnya Dt. Perpatih Nan Sabatang merubah
nama Sungai Keruh menjadi Batang Kuantan yang berasal dari kata kuak-kan-tan.
Setelah
mereka sampai di Kerajaan Kandis Dt. Perpatih Nan Sabatang menukar nama
Kerajaan Kandis dengan Kerajaan Kuantan yang pada waktu itu kerajaan Kandis
diperintah oleh tiga Orang Godang, yaitu Dt. Bandaro Lelo Budi dari Kari, Dt.
Pobo dari Kopah dan Dt. Simambang dari Sentajo yang selanjutnya dikenal dengan
Tri Buana. Pemerintahan dipegang oleh Orang Godang disebabkan karena
terputusnya Putra Mahkota dari Raja Darmaswara.
Dt.
Perpatih Nan Sabatang mengadakan pertemuan dengan ketiga Orang Godang tersebut
serta menghadirkan pemuka masyarakat lainnya di Balai Tanah Bukik Limpato
Inuman untuk memusyawarahkan persyaratan berdirinya satu Nagori di daerah
Kuantan.
Pada
tahun 1425 M Kerajaan Kuantan menerima tamu kehormatan yang berasal dari
Kerajaan Chola dari India Selatan, yaitu Natan Sang Sita Sangkala dengan
julukan Sang Sapurba. Sang Sapurba kawin di Semenanjung Malaka dengan Putri
Kerajaan Sriwijaya yang bernama Putri Lebar Daun dan mendapatkan anak empat
orang yaitu Sang Nila Utama, Sang Maniaka, Putri Candra Dewi dan Putri Bilal
Daun. Sesampainya di Kerajaan Kuantan Sang Sapurba diminta oleh Dt. Bandaro
Lelo Budi, Dt. Pobo dan Dt. Simambang menjadi raja di Kerajaan Kuantan. Sang
Sapurba menerima tawaran tersebut.
Kerajaan
Kuantan yang berpusat di Sintuo dibawah pemerintahan Sang Sapurba tidak banyak
mencapai kemajuan. Peninggalan Raja Sang Sapurba hanya membuat danau Raja untuk
pemeliharaan buaya di Paruso, membuat sumur dan kolam raja yang sampai sekarang
masih ada bukti peninggalan Sang Sapurba tersebut. Disamping itu Sang Sapurba
membunuh naga (ular) yang besar dengan keris Ganjar Iyas karena naga (ular)
tersebut telah meresahkan masyarakat. Tempat mati naga (ular) tersebut diberi nama
Punago artinya punah naga. Sedangkan Teluk Kuantan sekarang dijadikannya
pelabuhan dagang.
Pada
tahun 1435 M Sang Sapurba yang datang dengan Ceti Bilang Pandai di Kerajaan
Kuantan mohon diri dan melanjutkan perjalanan ke hulu Batang Kuantan (Sumatra
Barat sekarang atau Minangkabau) dan menuju Pagaruyung di Tanah Datar.
Sepeninggal Sang Sapurba berdirilah kerajaan-kerajaan kecil di Kuantan dan
hilang fungsi Orang Godang nan batigo yang membantu Sang Sapurba dalam kerajaan
Kuantan.
Penyebaran
keturunan kerajaan Kandis ke berbagai daerah di Sumatra ditandai dengan
persamaan bahasa dengan bahasa orang Kuantan seperti ke Payakumbuh, Sibolga,
Tapak Tuan, daerah Kampar, Jambi, Bengkulu dan daerah-daerah di Sumatra Barat.
Bukti-bukti
Sejarah daerah Kuantan di Bawah Permukaan Laut
Bukti
daerah Kuantan dibawah permukaan laut dimasa Sumatra bernama Pulau Perca
diantaranya adalah:
Ø
Adanya tempat bernama
Rawang Ojung (kapal kayu), ditempat ini dahulunya Ojung menjatuhkan
sauh/jangkar (di Desa Pulau Binjai sekarang).
Ø
Adanya tempat bernama
Rawang Ojung/Rawang Tekuluk (di Desa Sangau sekarang).
Ø
Ditemukannya fosil
kerang laut di Sosokpan pada tahun 1982 oleh penduduk waktu menggali tanah
membuat kebun. Dinamakan tempat ini dengan Sosokpan maksudnya ditempat ini
dahulunya binatang menyosok/minum ke tepi pantai.
Ø
Adanya nama tempat
bernama Sintongah di Desa Sangau, dimana Raja Sintong (Raja Sriwijaya)
mengadakan ekspedisi ke Kerajaan Kancil Putih dan ditempat ini mereka
menjatuhkan jangkar, sehingga tempat ini dinamakan Sintongah.
Ø
Pada tahun 2000 M
ditemukan batu laut di daerah Cengar oleh seorang Mahasiswa Arkeologi dari
Universitas Hasanudin Makasar.
Bukti-bukti Peninggalan Kerajaan Kandis:
v
Bekas penambangan emas
yang disebut dengan tambang titah, artinya diadakan penambangan emas atas titah
Raja Darmaswara. Lokasinya dikaki Bukit Bakar bagian timur yang lobang-lobang
bekas penambangan telah ditumbuhi kayu-kayuan.
v
Adanya daerah yang
bernama Muaro Tombang (Muara Tambang) yang terletak di sebelah hilir tambang
titah.
v
Istana Dhamna yang
berlokasi di Bukit Bakar (belum terungkap).
Bukti-bukti Peninggalan Kerajaan Koto Alang:
Bukti-bukti Peninggalan Kerajaan Koto Alang:
v
Adanya tempat yang
disebut Padang Candi di Dusun Botung (Desa Sangau), menandakan Kerajaan Koto
Alang menganut agama Hindu. Pada tahun 1955 M pernah dilakukan penggalian dan
menemukan Arca sebesar botol, dan Arca tersebut sampai sekarang tidak diketahui
lagi keberadaannya. Dilokasi tersebut ditemukan potongan-potongan batu bata
candi.
v
Dilain tempat telah
berulang kali diadakan penggalian liar dari situs Kerajaan Koto Alang tanpa
diketahui maksud dan tujuan oleh penduduk dan tanpa sepengetahuan Pemangku Adat
dan Pemerintah. Penggalian tersebut dilakukan dimana diperkirakan letaknya
istana Koto Alang di Dusun Botung tersebut.
v
Pada tahun 1970-an
banyak penemuan masyarakat yang mendulang emas seperti cincin, gelang, penjahit
emas, dan mata pancing dari emas.
v
Pada tahun 1967
ditemukan tutup periuk dari emas di dalam sungai Kuantan. Tutup periuk emas ini
diambil oleh pihak yang berwajib dan sampai sekarang tidak diketahui
keberadaannya. Diperkirakana tutup periuk ini terbawa arus sungai yang berasal
dari tebing yang runtuh disekitar Kerajaan Koto Alang.
v
Pada tahun 2007
dilakukan penggalian oleh Badan Purbakala Batu Sangkar bekerjasama dengan Dinas
Pariwisata Propinsi Riau tanpa sepengatahuan Pemangku Adat dan Pemerintah
Daerah. Pada penggalian sebelumnya mereka menemukan mantra berbahasa sangskerta
yang ditulis pada kepingan emas yang saat ini tidak diketahui keberadaannya.
v
Adanya sungai yang
mengalir dipinggir Padang Candi yang disebut dengan Sungai Salo yang berasal
dari kata Raja Bukak Selo karena dikalahkan oleh Kerajaan Kandis.
v
Adanya tempat bernama
Lopak Gajah Mati sebelah selatan Pasar Lubuk Jambi. Tempat itu merupakan tempat
Gajah Tunggal mati dibunuh oleh Raja Koto Alang yang dibunuh dengan lembing
sogar jantan. Disebut Gajah Tunggal karena gading gajah tersebut hanya satu
sebelah kiri kepalanya. Gading tersebut telah dijual pada tahun 1976 karena
tidak tahu nilai sejarahnya. Didalam kepala gajah ditemukan sebuah mustika yang
sangat indah sebesar bola pimpong. Sungai yang mengalir disamping Lopak Gajah
Mati dinamakan dengan Batang Simujur, artinya mujur/beruntung membunuh gajah
tersebut.
Bukti Kerajaan Kancil Putih
v
Adanya ekspedisi Raja
Sintong (Raja Sriwijaya) ke Kerajaan Kancil Putih, sehingga ada nama tempat
Sintongah di Desa Sangau.
Demikianlah
gambaran singkat tentang Pulau Atlas, Istana Dhamna, Kerajaan Kandis dan
beberapa kerajaan yang pernah ada di Lubuk Jambi, Kecamatan Kuantan Mudik
Kabupaten Kuantan Singingi Propinsi Riau (peta dan letak lokasinya dipegang
oleh tim penelusuran peninggalan kerajaan Kandis yang dibentuk oleh Pemangku
Adat Koto Lubuk Jambi Gajah Tunggal). Kalau Kerajaan Kandis ini Benua Atlantis
yang dimaksud oleh Plato, berarti peninggalan Kerajaan Kandis termasuk warisan
budaya dunia.
Oleh
karena itu partisipasi berbagai pihak (Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah,
Pemangku Adat dan masyarakat setempat) sangat menentukan dalam mengungkap
kembali pusat peradaban dunia tersebut.
Ini
hanyalah sebuah analisis pemikiran tanpa dasar ilmiah yang kuat, jadi sampai
saat ini catatan tentang kerajaan Kandis sangat Minim, mungkin hanya terdapat
dalam Kitab Negara Kertagama, mohon masukan dari yang lebih ahli, tentang
Kerajan kandis
Dhamna merupakan nama istana Kerajaan Kandis. Secara
turun-temurun cerita/tombonya masih tetap ada disampaikan dari generasi ke
generasi. Masyarakat Lubuk Jambi meyakini istana ini masih ada, namun tertimbun
dan sudah tertutupi oleh hutan yang lebat, atau lenyap dari pandangan manusia.
Dalam ceritanya lokasi Istana Dhamna ini pada pertemuan dua sungai.



0 komentar:
Posting Komentar
Kumaha tah saur anjeun.....