SAJAK PSK TUA UNTUK TUHANNYA
Tuhan, doa-doaku
memang belum terjawab.
Dan komat-kamit ini bukan inginku untuk bertanya
mengapa, meratapi atau mengesah.
Aku hanya mau berbagi duka.
Suamiku
gila, dia mati kemudian aku tertatih sendiri mencari rejeki.
Empat
anakku begitu malang nasibnya
Yang sulung diperkosa, putri kedua putus
sekolah,
ketiga mati muda, putra bungsuku baru saja masuk penjara jadi
pengedar narkoba.
Kemarin, aku dikejar petugas, pukul pentungan mereka
membentur tulang bokongku.
Aku masih dapat menghitung tiga kali datang
ke pelatihan,
Di sana aku ditertawai, lalu aku pulang, dan mengeraskan
hati kembali ke pilihan ini.
Sebab jika tidak begitu, mesti kemanakah
aku membawa hidupku...?
Kalau gelap datang aku berdandan seadanya
Merebahkan tubuhku di gang remang-remang ini
Berharap ada pelanggan
datang dan kami mulai menawar harga
Sering aku kalah dan memang aku
mesti mengalah
Aku tahu ini hanya untuk sementara
Semua sirna setelah
aku kembali mengubur semua yang fana
Tetapi aku tidak mau mati dengan
dosa
Maka malam ini, tengah menanti tubuhku laku terjamah
Dalam hati aku
masih menggumam nama-Mu
Bersua dengan-Mu dalam rupa angin, kecamuk
hati, penolakan dan penyesalan.
Aku berdosa Tuhan, tetapi lebih
berdosa jika aku harus mencuri
Lebih berdosa bila mencekik mati orang
dan menjarah hartanya
Lebih berdosa bila aku memaki-maki bahwa
Kau tidak
adil
Lebih berdosa jika karena beban ini lalu aku menjual iman,
bertukar keyakinan dan mengabaikan kerahiman-Mu
Lebih berdosa jika
karena aib-aibku orang lain ikut berdosa
Paling berdosa jika aku harus
mengakhiri hidupku, mati dengan bunuh diri.
Aku berdosa Tuhan,
tetapi jika aku kaya aku akan menilai dunia dengan angkuh
Jika aku
berpangkat aku akan menjaga wibawa
Kemudian aku lupa,
Kau yang memberi
dengan cuma-cuma
Akan datang waktu, semua terambil lenyap Hanya
sebentar, hanya Kau yang mengerti arti murni pertobatan Tetapi
penghabisan tidak akan menyadarkan kami semua sama adanya.
Kasihanilah
anak-anakku Tuhan, ampunilah kami
Pegang jiwa mereka dengan erat,
Aku
sudah tua Sudah letih bersiur syur menjilat malam hingga pekik ayam
membatasi geliat Tetapi sampai mati, mungkin aku tidak akan berhenti...
Sebab jika tidak begitu, kemanakah lagi aku membawa hidup ini...?



0 komentar:
Posting Komentar
Kumaha tah saur anjeun.....