MEMANDANG ALAM SEMESTA DENGAN KACAMATA AL-QUR’AN
Ada bukti yang sangat kuat yang mendukung teori Ledakan
Dahsyat. Meluasnya alam semesta merupakan salah satunya dan bukti yang paling
signifikan mengenai hal ini adalah saling menjauhnya galaksi-galaksi dan
benda-benda langit. Untuk memahami dengan lebih baik, alam semesta bisa
dibayangkan sebagai permukaan balon yang digelembungkan. Seperti halnya
bagian-bagian permukaan balon yang saling menjauh ketika balon digelembungkan,
begitu jugalah angkasa yang saling menjauh tatkala alam semesta meluas.
Dalam hal ini, mari kita rujuk ke ayat Al-Qur’an yang relevan.
Pada satu ayat, berikut ini dinyatakan mengenai penciptaan alam semesta: Dengan kekuasaan Kami membangun cakrawala, dan Kami yang
menciptakan angkasa luas. (Surat
adz-Dzaariyaat, 47)
Pada ayat lain yang mengacu pada langit, difirmankan:
Pada ayat lain yang mengacu pada langit, difirmankan:
Tidakkah orang-orang kafir mengerti bahwa langit dan bumi
semula terpadu (sebagai satu kesatuan dalam penciptaan), lalu keduanya Kami
pisahkan? Dan dari air Kami jadikan segalanya hidup. Tidakkah
mereka mau beriman juga? (Surat al-Anbiyaa’, 30)
Kata-asal “ratk” tang diterjemahkan sebagai “terpadu” di
ayat ini, berarti “sesuatu yang tertutup, padat, kedap, bergabung menjadi satu
dalam massa yang berat” menurut kamus-kamus Arab. Maksudnya, ini dipakai untuk
dua potong yang berlainan yang membentuk entitas. Pernyataan “pisahkan” adalah
kata-kerja “fatk” dalam bahasa Arab dan ini berarti memecah obyek dalam keadaan
“ratk”. Sebagai misal, penumbuhan benih dan tampilan pucuk-pucuknya di bumi
diungkapkan dengan kata-kerja ini. Kini, mari kita lihat kembali ayat yang
menunjukkan bahwa langit dan bumi itu dalam keadaan “ratk”, lalu keduanya
diartikan “dipisahkan” dalam artian katakerja “fatk”. Maksudnya, yang satu
menerobos yang lain dan membuat jalan keluarnya. Sungguh, bila kita mengingat
kejadian pertama Ledakan Dahsyat, kita lihat bahwa bintik yang disebut telur
kosmik itu mengandung semua bahan alam semesta. Segala sesuatu, bahkan “langit
dan bumi” yang belum tercipta pun, terkandung di bintik ini dalam keadaan
“ratk”. Sesudah itu, telur kosmik ini meledak, kemudian semua zat menjadi
“fatk”.
Bila kita bandingkan ungkapan-ungkapan di ayat ini dengan
bukti ilmiah, kita lihat bahwa ungkapan-ungkapan ini sangat bersesuaian. Yang
cukup menarik, temuan-temuan ini belum ada sebelum abad ke-20.
PENCIPTAAN LANGIT
Steven Weinberg, pengarang buku The First Three
Minutes, pernah menegaskan bahwa sepintas lalu, tampaknya langit mungkin
merupakan suatu “alam tak berubah” yang kokoh. Sesungguhnya, awan-awan
berarak-arakan mengejar bulan, kolong langit biru mengelilingi bintang kutub,
bulan itu sendiri membesar dan mengecil dalam waktu yang lebih lama, dan bulan
dan planet-planet bergerak melalui suatu bidang yang ditentukan oleh
bintang-bintang. Akan tetapi, kita tahu bahwa semua ini kejadian setempat yang
disebabkan oleh pergerakan dalam sistem matahari kita. Weinberg juga
menambahkan bahwa di belakang planet-planet, bintang-bintang tampaknya tidak
bergerak.
Memang, dengan pengamatan ke arah langit sepintas lalu,
kita merasa bahwa segala benda itu sangat stabil dan tetap. Namun demikian, ini
tidak benar. Terdapat kegiatan besar di langit dan fakta ini, yang tak telihat
oleh mata telanjang, yang telah tercatat berabad-abad yang lalu di Al-Qur’an.
Terdapat banyak ayat di Al-Qur’an yang mengacu pada
langit, kebanyakan dalam bentuk jamak. Kata “samawat”, yang bermakna
“langit-langit”, dalam bahasa Arab berarti angkasa dan atmosfir bumi.
Hal pertama yang akan kita bahas di sini adalah
penggunaan kata “langit” dengan bentuk jamak. Penggunaan bentuk jamak ini
merupakan salah satu dari mukjizat Al-Qur’an. Sekarang mari kita jelaskan
mengapa.
Bayangkan bahwa anda keluar di udara terbuka dan
mengarahkan kepala anda menujui langit. Apa yang anda lihat? Jika musim panas,
anda akan melihat langit biru cerah atau beberapa awan melayang di langit; dan
jika musim dingin, langit abu-abu berkabut tertutup oleh awan. Apa pun yang
anda lihat, anda tidak akan mampu melihat atmosfir yang mengelilingi bumi. Anda
tak akan pernah tahu bahwa atmosfir ini tersusun dari beberapa lapisan. Bahwa
Al-Qur’an membuat acuan rinci ini yang tak teramati dengan mata telanjang itu
merupakan sepotong bukti besar bahwa inilah kata-kata Allah:
Dia yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis; tak
akan kau lihat ketidakseimbangan dalam ciptaan (Allah) Yang Maha Pemurah. Balikkanlah
pandanganmu sekali lagi, tampakkah olehmu ada yang cacat? Lalu ulanglah
pandanganmu sekali lagi; pandanganmu akan berbalik kepadamu, letih dan
membingungkan. (Surat al-Mulk, 3-4)
KETERANGAN HALAMAN 73
Dialah Pencipta langit dan
bumi; dan bila menghendaki sesuatu, Ia berkata, “Jadilah!” maka langsung
jadi.
|
Angkasa bisa dibayangkan sebagai rongga besar: rongga
amat besar yang tak berbatas, suatu rongga yang mengandung bintang-bintang,
planet-planet, dan benda-benda yang bergerak. Akan tetapi, angkasa itu bukan
rongga itu sendiri. Angkasa merupakan suatu “sistem” yang terdiri atas berbagai
bintang, sistem matahari, planet, satelit, dan komet yang semuanya tak
terhitung banyaknya. Telah dinyatakan dalam Al-Qur’an bahwa langit dan angkasa
diciptakan tanpa cacat dalam “tatanan besar”:
Tidakkah mereka melihat langit di atas mereka? Bagaimana
Kami membuatnya dan menghiasinya, dan tiada cacat padanya? (Surat Qaaf, 6)
BINTANG DAN PLANET
Mari kita amati maksud kata “bintang” dalam Al-Qur’an.
Bintang-bintang yang ditunjukkan dengan kata “najm” (bintang) dan “kandil”
(pelita) mempunyai dua fungsi utama seperti yang tersirat dalam ayat-ayat.
Mereka sumber cahaya dan dimanfaatkan untuk navigasi.
Terutama dalam ayat-ayat yang menggambarkan hari
kebangkitan, ditekankan bahwa cahaya bintang keluar dan menjadi mengecil. Untuk
matahari, yang merupakan bintang juga, dipakai kata “kandil”. Kata “kandil”
digunakan juga bila mengacu pada bintang-bintang yang menghiasi langit.
Sekalipun demikian, ada perbedaan yang amat penting ketika kata “nur” (sinar)
dipakai untuk bulan. Dengan cara ini, bintang dan bukan bintang saling berbeda.
Fakta ini, yang tidak mungkin diketahui 14 abad silam, merupakan satu mukjizat
Al-Qur’an.
Kita telah menyebutkan bahwa fungsi-kedua bintang-bintang
sebagaimana yang dirujuk dalam ayat-ayat itu merupakan pedoman navigasi. Ayat
ini menjelaskan bahwa manusia dapat menentukan arah dengan bantuan bintang di
langit. Di semua ayat ini, kata “najm” digunakan. Sungguh, sebelum penemuan
kompas, yang mempunyai peran yang sangat penting pada awal-mula penemuan
geografis pada Zaman Pertengahan, navigasi hanya bisa terwujud dengan bantuan
bintang-bintang pada perjalanan malam hari.
Bagaimana mungkin bahwa bintang-bintang menunjukkan arah?
Ini mungkin hanya jika tersusun dalam suatu tatanan di tempat tinggal tetap
mereka. Jika suatu bintang terlihat di suatu tempat pada suatu malam, dan di
tempat lain pada malam lain, maka dengan ini mustahil mendapatkannya. Dalam komnteks ini,
tempat tertentu yang di situ bintang-bintang muncul di langit menjadi sangat
penting. Dalam
Al-Qur’an, Allah berfirman:
Selanjutnya, Aku bersumpah demi tempat-tempat terbenamnya
bintang-bintang, dan itu sungguh suatu sumpah yang amat besar kalau kamu tahu. (Surat al-Waaqi’ah,
75-76)
MATAHARI DAN BULAN
Ada banyak ayat dalam Al-Qur’an yang menyebut matahari
dan bulan. Bila kata-kata Arab ini diselidiki, terungkaplah sifat yang menarik.
Pada ayat-ayat ini, kata “siraj” (lampu) dan “wahhaj” (terang-membara) dipakai
untuk matahari. Untuk bulan, kata “munir” (cerah berbinar-binar) digunakan. Sungguh,
manakala matahari menghasilkan panas dan cahaya yang amat besar sebagai akibat
dari reaksi nuklir di dalam, bulan hanya memantulkan cahaya yang diterimanya
dari matahari. Ayat-ayat yang menunjukkan perbedaan ini adalah:
Tidakkah kamu lihat bagaimana Allah menciptakan tujuh
langit berlapis-lapis, dan membuat bulan yang bercahaya di antaranya, dan
membuat matahari sebagai pelita (yang cemerlang)? (Surat Nuuh, 15-16)
Telah Kami bangun di atas kamu tujuh cakrawala dan
menempatkan (di situ) cahaya yang cemerlang. (Surat an-Nabaa’, 12-13)
Mahasuci Dia Yang telah menjadikan gugusan bintang di
langit dan menempatkan sebuah pelita (yang cemerlang) dan sebuah bulan yang
memberi penerangan. (Surat al-Furqaan, 61)
Perbedaan antara matahari dan bulan itu sungguh merupakan
bukti di ayat ini. Yang satu dilukiskan sebagai sumber cahaya dan yang lain
sebagai pemantul cahaya. Mustahil rincian seperti itu telah diketahui pada
waktu itu. Baru
berabad-abad kemudian manusia mulai mempunyai pengetahuan ini. Karena itu,
fakta bahwa informasi ini telah diberikan di Al-Qur’an merupakan satu bukti
bahwa Al-Qur’an diwahyukan oleh Tuhan.
Sekarang, mari kita alihkan perhatian kita ke
karakteristik hebat lainnya yang terdapat pada benda-benda langit—yang
merupakan pergerakan mereka di angkasa.
KETERANGAN HALAMAN 76
Demi langit yang pebuh
jalan-jalan. (Surat adz-Dzaariyaat, 7)
|
ORBIT YANG TERPAPAR DI AL-QUR’AN
Di atas, kita telah menyatakan bahwa benda-benda langit
bergerak di angkasa. Pergerakan-pergerakan ini terkendali sepenuhnya dan semua
benda bergerak dalam suatu orbit yang terhitung. Dalam Al-Qur’an, ayat-ayat
tertentu mengacu pada pergerakan matahari dan bulan sebagai berikut: “Matahari
dan bulan beredar menurut perhitungan (secara eksak).” (Surat
ar-Rahmaan, 5). “Tiada semestinya matahari menyusul bulan, dan malam tak
akan mendahului siang. Masing-masing berenang dalam garis edarnya.” (Surat
Yaasiin, 40). Sebuah ayat lain menyatakan efek yang sama:
Dialah Yang menciptakan malam dan siang, matahari dan
bulan. Masing-masing berenang dalam garis edarnya. (Surat al-Anbiyaa’, 33)
Menurut sebuah teori mutakhir yang terakui, benda-benda
yang padat dan sangat besar di alam semesta memaksakan kekuatan gravitasi
terhadap benda-benda yang lebih kecil. Sebagai misal, bulan membuat orbit
mengelilingi bumi, yang mempunyai volume yang lebih besar. Bumi dan
planet-planet lain di tatasurya ini bergerak di suatu orbit mengelilingi
matahari. Masih ada sistem besar lain yang dikelilingi oleh matahari di suatu
orbit. Hal terpenting di semua rincian ini adalah bahwa tak satu pun dari
bintang, planet, dan benda-benda lainnya di angkasa bergerak secara tak
terkendali, memotong orbit lain, atau pun saling berbenturan.
Al-Qur’an mengisyaratkan pergerakan benda-benda secara
serasi ini sebagai berikut:
Demi langit yang pebuh jalan-jalan. (Surat
adz-Dzaariyaat, 7)
Matahari, sebagai salah satu dari trilyunan bintang di
alam semesta, melakukan perjalanan lebih dari 17 juta kilometer per hari di
angkasa. Perjalanan matahari ini ditunjukkan oleh Allah sebagai berikut:
Dan matahari beredar menurut waktu yang sudah ditentukan
baginya; itulah ketentuan Yang Mahaperkasa, Mahatahu. (Surat Yaasiin, 38)
ATAP YANG TERJAGA BAIK
Kami jadikan langit sebagai atap yang terjaga baik,
tetapi mereka berpaling dari tanda-tanda yang ada. (Surat al-Anbiyaa’, 32)
Hampir semua orang pernah melihat gambar permukaan bulan.
Struktur permukaan ini sangat tidak rata karena kejatuhan meteor-meteor yang
tak terhitung jumlahnya. Besarnya kawah-kawah yang terbentuk dengan
meteor-meteor ini merupakan karakter bulan yang paling khas. Segala stasiun
angkasa atau tempat tinggal yang didirikan di permukaan bulan tanpa dengan
perisai khusus akan sangat berkemungkinan untuk rata dengan tanah. Satu-satunya
cara untuk mencegahnya adalah “menjaga”-nya dengan berbagai cara.
Rincian ini, yang hampir tidak pernah kita pikirkan,
disediakan bagi bumi dengan cara yang sangat alamiah. Karena itu, orang-orang
tidak perlu mengambil tindakan ekstra untuk bertahan hidup. Atmosfer bumi
menghancurkan semua meteor besar dan kecil yang mendekati bumi, menyaring sinar
yang berbahaya di angkasa dan, dengan demikian, melaksanakan proses yang vital
demi kelangsungan hidup manusia.
Banyak sinar yang berbahaya—dan bahkan fatal—mencapai
bumi dari matahari dan bintang-bintang lain. Sumber utama sinar-sinar yang
berbahaya ini terutama adalah ledakan energi, “kobaran” di matahari, bintang
terdekat dengan bumi.
Selama matahari ini bersorot, suatu awan plasma terlempar
ke angkasa dengan kecepatan 1.500 km/detik. Awan plasma ini, yang tersusun dari
proton yang bermuatan positif dan elektron yang bermuatan negatif,
menghantarkan listrik. Ketika awan itu mendekati bumi dengan kecepatan 1.500
km/detik, awan ini mulai menghasilkan arus listrik di bawah pengaruh bidang
magnet di sekeliling bumi. Di sisi lain, bidang magnetik bumi itu mengerahkan
gaya pendorong terhadap awan plasma tersebut yang mengalir langsung melalui
ini. Gaya ini menghentikan pergerakan awan itu dan menjaganya pada jarak
tertentu. Kini, mari kita amati daya awan plasma yang “dihentikan” sebelum
mencapai bumi.
Walaupun awan plasma itu tertahan oleh bidang magnetik
bumi, pengaruhnya masih tercerap dari bumi. Dengan mengikuti kobaran kuat
tersebut, transformer-transformer bisa meledak di saluran-saluran yang
bertegangan tinggi, jaringan komunikasinya bisa putus atau gabungan jaringan
listriknya bisa berhamburan.
Di suatu ledakan bintik-matahari, energi yang diluncurkan
akan terhitung sama dengan 100 trilyun kali energi bom atom yang dijatuhkan di
Hiroshima. Limapuluh-delapan jam sesudah kobaran, aktivitas yang menonjol bisa
diamati pada jarum kompas, dan panasnya melonjak sampai 2.500 C pada ketinggian
sekitar 250 kilometer di atas atmosfir.
Sekalipun demikian, arus partikel lain disebarkan dari
matahari dengan kecepatan yang relatif lebih rendah, kira-kira 400 km/detik.
Ini disebut “angin matahari.” Angin matahari dikendalikan dengan lapisan partikel
bermuatan yang disebut “Lajur Radiasi Van Allen” yang dihasilkan di bawah
pengaruh bidang magnetik bumi dan, dengan demikian, tidak membahayakan bumi.
Pembentukan lapisan ini dimungkinkan karena karakteristik inti bumi. Inti ini
mengandung logam-logam magnetik seperti besi dan nikel. Yang lebih penting
adalah bahwa nukleusnya tersusun dari dua struktur yang berbeda. Inti dalamnya padat,
sedangkan inti luarnya cair. Dua lapisan
inti ini masing-masing berputar. Pergerakan ini menciptakan efek magnetik di
logam-logam yang mengarah pada pembentukan bidang magentik. Lajur Van Allen itu
merupakan perpanjangan dari bidang magnetik ini yang merentang ke jangkauan
atmofir terluar. Bidang magnetik ini melindungi bumi terhadap bahaya-bahaya
yang mungkin berasal dari angkasa. Angin-angin matahari tidak bisa lewat
melalui Lajur Van Allen, 40.000 mil dari bumi. Bila dalam bentuk
partikel-partikel yang bermuatan listrik, mereka menjumpai bidang magnetik ini,
terurai dan tersebar di sekitar lajur ini.
KETERANGAN HALAMAN 79
Jika
“atap yang terjaga baik tidak ada, akan ada bencana di bumi lebih dari yang
terlukis di gambar ini.
|
Tepat
seperti Lajur Van Allen, atmosfir bumi juga melindungi bumi dari efek-efek
angkasa yang merusak. Kami menyebutkan bahwa atmosfir melindungi bumi dari
meteor. Akan tetapi, ini bukan hanya ciri atmosfir. Sebagai misal, suhu minus
273 di angkasa luar, yang disebut “nol mutlak” yang akan berdampak fatal bagi
orang-orang, sedangkan suhu di atmosfir bumi lebih tinggi secara permanen.
Yang lebih
menarik adalah bahwa atmosfir hanya membiarkan masuk sinar-sinar,
gelombang-gelombang radio, dan cahaya-cahaya yang tidak berbahaya, karena ini
merupakan unsur-unsur yang vital bagi kehidupan. Sinar ultraviolet, yang hanya
dibiarkan masuk sebagian oleh atmosfir, sangat penting untuk fotosintesis
tanaman dan untuk kelangsungan hidup semua makhluk hidup. Pancaran ini, yang
terpancar dengan sangat kuat dari matahari ke bumi, disaring melalui lapisan
ozon atmosfir dan hanya sebagian yang diperlukan saja yang mencapai bumi. Sinar
matahari adalah salah satu persyaratan hidup yang paling mendasar.
Singkatnya,
terdapat suatu sistem hebat yang berfungsi di bumi yang mencakup-diri dan
melindunginya dari bahaya luar. Dalam Al-Qur’an, keadaan bumi yang berperisai
diungkapkan dengan ayat berikut ini:
Dan Kami
telah menjadikan langit (sebagai) atap yang terjaga baik; (namun) mereka
berpaling dari ayat-ayat ini. (Surat al-Anbiyaa’, 32)
Tiada keraguan bahwa pada abad ke-7, mengetahui
perlindungan atmosfir atau pun keberadaan Lajur Van Allen adalah mustahil.
Sekalipun begitu, ungkapan “atap yang terjaga baik” menjelaskan dengan sempurna
perantara-perantara pelindung di sekitar bumi yang belum ditemukan hingga zaman
modern. Jadi, ayat tersebut yang menyebut langit sebagai “atap yang terjaga
baik” menunjukkan bahwa al-Qur’an dikirim oleh Sang Pencipta Yang
berpengetahuan atas segala sesuatu.
RELATIVITAS WAKTU
Relativitas waktu adalah fakta ilmiah yang terbukti saat
ini. Akan tetapi, hingga Einstein mengetengahkan “teori relativitas” pada awal
abad 20, tak seorang pun mengira bahwa waktu bisa relatif dan bergantung pada
kecepatan dan massa.
Namun ada
pengecualian! Al-Qur’an telah mengeluarkan informasi tentang relativitas waktu! Tiga ayat
mengenai hal ini ialah:
Mereka meminta kepadamu supaya azab dipercepat, tetapi
Allah tidak akan menyalahi janji-Nya. Sungguh, satu hari menurut Allah seperti
seribu tahun dalam perhitungan kamu. (Surat
al-Hajj, 47)
Ia
mengatur semua urusan dari langit sampai ke bumi, kemudian (semua itu) kembali
kepada-Nya dalam satu hari, yang kadarnya seribu tahun menurut perhitungan
kamu. (Surat as-Sajdah, 5)
Para
malikat dan roh naik kepada-Nya pada suatu hari yang ukurannya limapuluh ribu
tahun. (Surat al-Ma’aarij, 4)
Sebagai kitab yang diwahyukan pertama kali pada 610,
Al-Qur’an yang menyiratkan relativitas yang sangat dini merupakan bukti lain
bahwa inilah kitab ilahi.
PERPUTARAN BUMI
Bahasa Arab, bahasa pewahyuan Al-Qur’an, merupakan bahasa
yang maju dan sangat kaya. Kosakatanya sangat luas dan variasi kata-katanya
banyak. Karena alasan ini, beberapa kata verbal Arab tidak bisa diterjemahkan
ke berbagai bahasa dengan kata tunggal. Sebagai contoh, kata “hasyiya” berarti
“takut yang disertai takjub” (untuk berbagai jenis rasa takut lain dipakai
kata-kata lain). Contoh lain, kata “karia” dipakai untuk mengacu pada
“kemalangan yang menohok”, yakni Hari Pembalasan.
Salah satu kata verbal adalah “takwir”. Dalam bahasa
Indonesia, ini berarti “menumpuk benda-benda seperti menumpuk kain yang
terhampar”. Sebagai misal, dalam kamus-kamus Arab kata ini dipakai untuk
tindakan saling membungkus, dengan cara seperti surban. Sekarang mari kita
lihat sebuah ayat yang menggunakan kata “takwir”:
Dialah Yang menciptakan langit dan bumi dengan
sebenarnya. Dia menutupkan malam ke atas siang dan menutupkan siang ke atas
malam. (Surat az-Zumar, 5)
Informasi yang terdapat di ayat tersebut yang mengenai
saling-bungkus antara siang dan malam itu mencakup informasi yang akurat
tentang bentuk bumi. Situasi ini bisa benar hanya jika bumi ini bundar. Ini
berarti bahwa dalam Al-Qur’an, perputaran bumi telah diisyaratkan.
Akan tetapi, paham astronomi tentang waktu, mencerap
dunia secara berbeda. Sebagaimana yang telah kami sebutkan, lalu dikira bahwa
dunia adalah planet datar dan semua penjelasan dan perhitungan ilmiah
didasarkan pada kepercayaan ini. Akan tetapi, karena Al-Qur’an itu firman
Allah, kata-kata yang paling benarlah yang dipakai dalam memerikan alam
semesta.
KETERANGAN HALAMAN 82
Dialah Yang menjadikan bumi
tunduk kepadamu, maka berjalanlah kalian di penjuru-penjurunya, dan makanlah
dari rizqi-Nya. Dan kepada-Nya semua akan dibangkitkan. (Surat al-Mulk, 15)
|
FUNGSI GUNUNG
Menurut temuan-temuan geologis, pegunungan itu muncul
sebagai hasil dari pergerakan dan perbenturan pelat raksasa yang merupakan
kerak bumi. Pelat-pelat ini amat besar dan membawa semua benuanya. Bila dua
pelat bertabrakan, yang satu biasanya tergelincir di bawah yang lain dan
puing-puing di antara keduanya terangkat. Tonjolan besar di puing-puing yang
terpadatkan ini membentuk pegunungan dengan terangkat lebih tinggi daripada
sekelilingnya. Sementara itu, tonjolan yang merupakan pegunungan bergerak di bawah
tanah selain di atas tanah. Ini berarti bahwa pegunungan mempunyai bagian yang
terseret ke bawah sebesar bagiannya yang terlihat. Perpanjangan pegunungan di
bawah tanah ini mencegah kerak bumi dari tergelincie pada lapisan magma atau
antara lapisan-lapisannya.
Dengan penjelasan ini, salah satu dari sifat pegunungan
yang paling bermakna adalah formasinya di titik-titik gabung pada pelat-pelat
bumi yang tertekan bersama-sama dengan berdekatan ketika mendekat dan
“memancangkan” diri. Artinya, kita bisa mempersamakan pegunungan dengan
paku-paku yang merekatkan potongan-potongan kayu.
Selanjutnya, tekanan yang didesakkan oleh pegunungan
terhadap kerak bumi dengan massa yang amat besar itu mencegah pergerakan magma
di inti bumi dari penjangkauan bumi dan penghancuran kerak bumi. Lapisan tengah
bumi, yang disebut inti, merupakan kawasan yang terbuat dari bahan-bahan yang
mendidih di suhu yang mencapai ribuan derajat. Pergerakan di inti ini
menyebabkan pemisahan bagian-bagian untuk tegak di antara pelat-pelat yang membereskan
bumi. Pegunungan yang tegak di bagian-bagian ini menghalangi pergerakan ke atas
dan melindungi bumi dari gempa bumi yang keras.
Sangat menarik untuk dicatat bahwa fakta-fakta teknis ini
yang ditemukan oleh geologi modern di masa kita sekarang telah terungkap dalam
Al-Qur’an ribuan tahun yang lalu. Dalam suatu ayat tentang pegunungan,
dinyatakan dalam Al-Qur’an:
Dia menciptakan langit tanpa tiang yang dapat kau lihat;
Dia memancangkan di atas bumi gunung-gunung supaya tidak menggoyangkan kamu; dan
Dia menebarkan di dalamnya binatang-binatang dari segala jenis. (Surat Luqman,
10)
Dengan ayat ini, Al-Qur’an menolak takhyul yang biasanya
diakui pada waktu itu. Dengan mempunyai pengetahuan astronomis primitif seperti
masyarakat-masyarakat lain pada waktu itu, orang-orang Arab mengira bahwa
langit terangkat tinggi di atas gunung. (Inilah kepercayaan tradisional yang
kemudian ditambahkan di Perjanjian Lama untuk menjelaskan alam semesta.)
Kepercayaan ini berpendapat bahwa ada pegunungan tinggi di dua ujung bumi yang
datar. Inilah “penopang” langit. Pegunungan ini dikira sebagai tiang yang
menyangga langit di atas tempatnya. Ayat tersebut menolak hal ini dan
menyatakan bahwa langit itu “tanpa penopang”. Fungsi geologis sejati juga
diungkapkan: untuk mencegah getaran. Sebuah
ayat lain menekankan hal itu pula:
Dan Kami
jadikan di atas bumi gunung-gunung, supaya bumi tidak bergoyang bersama mereka,
dan Kami jadikan lorong-lorong lebar di antaranya, supaya mereka mendapat
petunjuk. (Surat al-Anbiyaa’, 31)
HUJAN
Hujan sesungguhnya merupakan salah satu dari unsur-unsur
terpenting bagi kelangsungan hidup di bumi. Hujan adalah prasyarat bagi
kesinambungan aktivitas di suatu kawasan. Hujan, yang membawa zat-zat yang penting
bagi kehidupan, termasuk bagi manusia, disebutkan di berbagai ayat Al-Qur’an
yang memberi informasi mendasar mengenai pembentukan hujan, sifat-sifat dan
efek-efeknya. Informasi ini, yang belum pernah diketahui oleh orang-orang pada
masa itu, menunjukkan bahwa Al-Qur’an merupakan firman Allah.
Kini, mari kita periksa informasi yang tersaji dalam
Al-Qur’an perihal hujan.
Proporsi Hujan
Dalam ayat kesebelas Surat az-Zukhruf, hujan
didefinisikan sebagai air yang diturunkan dengan “ukuran yang sesuai”, sebagai
berikut:
Ia menurunkan (dari waktu ke waktu) hujan dari langit
sesuai dengan ukuran, dan Kami hidupkan dengan itu daerah yang sudah mati.
Demikian juga kamu akan dibangkitkan (dari kematian). (Surat az-Zukhruf, 11)
“Ukuran” yang disebutkan di ayat ini berkaitan dengan
sepasang sifat hujan. Pertama, air hujan yang jatuh di bumi selalu sama.
Diperkirakan, dalam satu detik, 16 juta ton air menguap dari bumi. Angka ini
sama dengan curah air yang jatuh ke bumi dalam satu detik. Ini berarti bahwa air
beredar terus-menerus di suatu daur yang seimbang menurut suatu “ukuran”.
Suatu ukuran lain yang terkait dengan hujan adalah
mengenai kecepatan jatuhnya. Ketinggian minimal awan mendung adalah 1.200
meter. Bila jatuh dari ketinggian ini, suatu obyek yang bobot dan ukurannya
sama dengan air hujan akan semakin cepat dan jatuh ke tanah dengan kecepatan
558 km/jam. Tentu saja, obyek apa pun yang membentur tanah dengan kecepatan itu
akan menyebabkan kerusakan besar. Jika hujan yang terjadi itu jatuh dengan cara
seperti itu, semua lahan panenan akan hancur, kawasan pemukiman, perumahan, dan
mobil-mobil akan remuk, dan orang-orang tidak bisa berjalan-jalan tanpa
perlindungan ekstra. Padahal, perhitungan ini hanya untuk awan setinggi 1.200
meter; ada juga awan mendung setinggi 10.000 meter. Air hujan dari tempat
setinggi ini bisa memiliki kecepatan yang amat merusak.
Akan tetapi, kenyataannya tidak begitu. Dari ketinggian
berapa pun, kecepatan air hujan hanya 8-10 km/jam kala menimpa tanah. Alasan
untuk hal ini adalah bentuk istimewa yang mereka ambil. Bentuk istimewa ini
meningkatkan pengaruh pemecah di atmosfir dan mencegah pemercepatan kala air
hujan mencapai “batas” kecepatan tertentu. (Dewasa ini parasut dirancang dengan
menggunakan teknik ini.)
Ini belum semua “ukuran” hujan. Untuk contoh, di lapisan
atmosfir tempat berawalnya hujan, suhunya bisa turun hingga serendah 400
Celsius di bawah nol. Namun demikian, air hujan tak pernah menjadi
partikel-partikel es. (Ini tentu saja berarti ancaman yang fatal untuk makhluk
hidup di bumi.) Alasannya adalah bahwa air di atmosfir itu air murni.
Sebagaimana yang kita tahu, air murni sulit membeku, di suhu yang sangat rendah
sekalipun.
Pembentukan Hujan
Bagaimana hujan terbentuk masih merupakan misteri besar
bagi orang-orang dalam waktu yang lama. Baru setelah radar cuaca ditemukan,
bisa didapatkan tahap-tahap pembentukan hujan.
Pembentukan hujan berlangsung dalam tiga tahap. Pertama,
“bahan baku” hujan naik ke udara. Lalu awan terbentuk. Akhirnya curahan hujan terlihat.
Tahap-tahap
ini ditetapkan dengan jelas di Al-Qur’an berabad-abad yang lalu yang memberi
informasi yang tepat mengenai pembentukan hujan:
Dialah
Allah Yang mengirimkan angin yang menggerakkan awan; lalu Ia membentangkannya
di langit sesuai dengan kehendak-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal, lalu
kau lihat air hujan keluar dari celah-celahnya; maka bila Ia menurunkannya
kepada siapa saja dari hamba-hamba-Nya yang Ia kehendaki, mereka pun bergembira
ria. (Surat ar-Ruum, 48)
Kini mari
kita amati tiga tahap yang disebutkan dalam ayat ini.
TAHAP
1: “Dialah Allah Yang
mengirimkan angin...”
Gelembung-gelembung
udara yang tak terhitung yang dibentuk dengan pembuihan di lautan yang pecah
terus-menerus dan menyebabkan partikel-partikel air tersembur menuju langit. Partikel-partikel ini,
yang kaya akan garam, lalu diangkut oleh angin dan bergerak ke atas di
atmosfir. Partikel-partikel ini, yang disebut aerosol, membentuk awan dengan
mengumpulkan uap air di sekelilingnya, yang naik lagi dari laut, sebagai
titik-titik kecil dengan mekanisme yang disebut “perangkap air”.
TAHAP 2: “...dan yang menggerakkan awan; lalu Ia
membentangkannya di langit sesuai dengan kehendak-Nya, dan menjadikannya
bergumpal-gumpal...”
Awan-awan terbentuk dari uap air yang mengembun di
sekeliling butir-butir garam atau partikel-partikel debu di udara. Karena air
hujan dalam hal ini sangat kecil (engan diamter antara 0,01 dan 0,02 mm),
awan-awan itu bergantungan di udara dan terbentang di langit. Jadi, langit
ditutupi dengan awan-awan.
TAHAP 3: “...lalu kau lihat air hujan keluar dari
celah-celahnya.”
Partikel-partikel air yang mengelilingi butir-butir garam dan
partikel-partikel debu itu mengental dan membentuk air hujan. Jadi, air hujan
ini, yang menjadi lebih berat daripada udara, bertolak dari awan, dan mulai
jatuh ke tanah sebagai hujan.
Semua tahap pembentukan hujan telah diceritakan dalam
ayat-ayat Al-Qur’an. Selain itu, tahap-tahap ini dijelaskan dengan urutan yang
benar. Sebagaimana fenomena-fenomena alam lain di bumi, lagi-lagi Al-Qur’an-lah
yang menyediakan penjelasan yang paling benar mengenai fenomena ini dan juga
telah mengumumkan fakta-fakta ini kepada orang-orang pada ribuan tahun sebelum
ditemukan oleh ilmu pengetahuan.




2 komentar:
kang sya punya beberapa slide tentang awal terciptanya langit dan bumi sampai pada perkiraan hancurnya, ada penjelasan secara ilmiah oleh para ahli yang di singkronkan dengan Al-qur'an... sya juga punya salah satu kitab kontrafersi yang dilarang oleh beberapa ulama safusholeh... didalam kitab itu menceritakan tentang awal terciptanya langit dan bumi sampai pada masa dihancurkanya. semua lengkap bahkan tentang sejarah masa lalu dan masa depan, semua sudah terangkum... hanya kitabnya dicetak dalam bahasa arab gundul...
22 Agustus 2010 pukul 14.12sya pelajaripun hanya untuk pengetahuan sendiri dan tidak di publikan... kapan2 kalo kita sempet ketemu bisa kita bahas kang...!!
di shere aja ke pesan fb sy.... buat konsumsi pribadi kang..... bisa ga
22 Agustus 2010 pukul 14.31Posting Komentar
Kumaha tah saur anjeun.....